Selasa, 13 Februari 2018

MENGENAL RAJUNGAN




                                  
Negara Indonesia dikenal sebagai negara bahari dimana wilayah lautnya mencakup tiga perempat luas Indonesia atau 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, sedangkan luas daratannya hanya mencapai 1,9 juta km2. Wilayah laut yang sangat luas tersebut mengandung sumber daya alam perikanan yang sangat berlimpah, salah satunya adalah kepiting. Kepiting yang ada di Perairan Indo Pasifik lebih dari 234 jenis dan sebagian besar yaitu 124 jenis ada di Perairan Indonesia. Jenis kepiting yang populer sebagai bahan makanan dan mempunyai harga yang cukup mahal adalah Scylla serrat dan jenis lain yang tidak kalah penting di pasaran adalah Portunus pelagicus yang biasa disebut rajungan.
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan kepiting laut yang banyak terdapat di Perairan Indonesia yang biasa ditangkap di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali), Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan dan daerah Kalimantan Barat. Rajungan telah lama diminati oleh masyarakat baik di dalam negeri maupun luar negeri, oleh karena itu harganya relatif mahal. Rajungan (Portunus pelagicus) banyak ditemukan pada daerah dengan geografi yang sama seperti kepiting bakau (Scylla serrata). P. pelagicus dikenal dengan blue swimming crab atau kepiting pasir dan merupakan hasil samping dari tambak tradisional pasang-surut di Asia. Sejak tahun 1973 di negara tetangga, rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil laut yang penting dalam sektor perikanan.
Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu mencapai 60% dari total hasil tangkapan rajungan. Rajungan juga diekspor ke berbagai negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan yang dalam bentuk olahan (dalam kaleng) diekspor ke Belanda. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor urutan ketiga dalam arti jumlah setelah udang dan ikan. Sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi di alam.Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari kepunahan jenis kepiting ini melalui pengembangan budi daya.
Beberapa spesies rajungan yang memiliki nilai ekonomis adalah Portunus trituberculatus, P. gladiator, P. sanguinus, P. hastatoides dan P. pelagicus, sementara yang banyak diteliti saat ini adalah P. pelagicus dan P. trituberculatus.
Populasi rajungan di alam semakin terancam dengan rusaknya habitat dan juga eksploitasi oleh nelayan di beberapa daerah sehingga mengakibatkan rendahnya ketersediaan rajungan di alam. Penangkapan kepiting rajungan yang berlebih itu tak lepas dari besarnya permintaan untuk ekspor, antara lain ke Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan beberapa negara Eropa. Permintaan pasar terhadap rajungan yang sangat tinggi harus segera diatasi dengan melakukan budidaya/akuakultur terhadap spesies yang dimaksud. Prospek akuakultur rajungan cukup besar namun kendala-kendala teknis hingga saat ini masih menghambat kesuksesan dalam akuakultur.
Secara umum permasalahan dalam budidaya rajungan ini adalah merupakan usaha yang relatif baru, masih adanya ketidakpastian dalam model bisnis, terdapat kompetisi penggunaan ruang dengan budidaya udang, cost production tidak menentu, penanganan yang dirasakan lebih sulit sehingga membutuhkan tenaga kerja yang tinggi, ketersediaan benih di alam yang tidak pasti (untuk pembesaran), ketersediaan pakan pembesaran yang murah dan kelangsungan hidup yang rendah akibat kanibalisme. Mungkin masih terdapat banyak permasalahan namun upaya untuk mengatasi terus dikembangkan. Riset dan pengembangan spesies ini di masa depan akan sangat berguna bagi kesempurnaan teknik pembenihan dan pembesaran sehingga bisa diaplikasikan oleh masyarakat luas.

MORFOLOGI RAJUNGAN

Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Bila kepiting hidup di perairan payau, seperti di hutan bakau atau di pematang tambak, rajungan hidup di dalam laut. Rajungan memang tergolong hewan yang bermukim di dasar laut, tapi malam hari suka naik ke permukaan untuk cari makan. Makanya rajungan disebut juga “swimming crab” alias kepiting yang bisa berenang.
Dengan melihat warna dari karapas dan jumlah duri pada karapasnya, maka dengan mudah dapat dibedakan dengan kepiting bakau. Rajungan (P. pelagicus) memiliki karapas berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat duri sembilan buah, di mana duri yang terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang dan memasukkan makanan kedalam mulutnya, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan dan sepasang kaki terakhir mengalami modifikasi menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti dayung. Oleh sebab itu rajungan digolongkan kedalam kepiting berenang (swimming crab). Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodos, karpus, dan merus.
Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kiri mata. Bobot rajungan dapat mencapai 400 gram, dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inchi), Rajungan bisa mencapai panjang 18 cm, capitnya kokoh, panjang dan berduri-duri. Rajungan mempunyai karapas berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik. Ukuran karapas lebih besar ke arah samping dengan permukaan yang tidak terlalu jelas pembagian daerahnya. Sebelah kiri dan kanan karapasnya terdapat duri besar, jumlah duri sisi belakang matanya sebanyak 9, 6, 5 atau 4 dan antara matanya terdapat 4 buah duri besar.
Pada hewan ini terlihat menyolok perbedaan antara jantan dan betina. Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat. Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan capitnya lebih panjang daripada betina. Perbedaan lainnya adalah warna dasar, rajungan jantan berwarna kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan betina berwarna dasar kehijau-hijauan dengan bercak-bercak putih agak suram. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa

KLASIFIKASI RAJUNGAN

Dilihat dari sistematikanya, rajungan termasuk ke dalam:
Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Eumetazoa
Grade : Bilateria
Divisi : Eucoelomata
Section : Protostomia
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Sub Ordo : Reptantia
Seksi : Brachyura
Sub Seksi : Branchyrhyncha
Famili : Portunidae
Sub Famili : Portunninae
Genus : Portunus
Spesies : Portunus pelagicus
Dari beberapa jenis kepiting yang dapat berenang (swimming crab), sebagian besar merupakan jenis rajungan. Sebagai contoh yang banyak terdapat di Teluk Jakarta adalah 7 jenis rajungan seperti Portunus pelagicus, P. sanguinolentus, Thalamita crenata, Thalamita danae, Charybdis cruciata, Charibdis natator, Podophthalmus vigil. Sementara beberapa informasi lain menyebutkan bahwa jenis rajungan terdiri atas 11 jenis seperti Portunus pelagicus Linn, P. sanguinolentus Herbst, P. sanguinus, P. trituberculatus, P. gladiator, P. hastatoides, Thalamita crenata Latr., Thalamita danae Stimpson, Charybdis cruciata, Charibdis natator Herbst, Podophthalmus vigil Fabr,Sedangkan P. trituberculatus banyak ditemukan di Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea. Nilai gizi dari bagian tubuh jenis kepiting yang dapat dimakan (edible portion) mengandung protein 65,72%; mineral 7,5%; dan lemak 0,88% .

HABITAT RAJUNGAN
 
Habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 65 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria.
Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang. Sebagaimana halnya dengan kerabatnya, yaitu kepiting bakau, di alam makanan rajungan juga berupa ikan kecil, udang-udang kecil, binatang invertebrata, detritus dan merupakan binatang karnivora. Rajungan juga cukup tanggap terhadap pembeian pakan furmula/pellet. Sewaktu masih stadia larva, hewan ini merupakan pemakan plankton, baik phyto maupun zooplakton.

KETERKAITAN EKOSISTEM
 
Portunus pelagicus, juga dikenal sebagai bunga kepiting, kepiting biru, rajungan, kepiting manna biru atau kepiting pasir, adalah kepiting yang ditemukan di intertidal muara dari Hindia dan Samudra Pasifik (pantai Asia) dan Timur Tengah- pantai di Laut Mediterania. Kepiting-kepiting tersebar luas di bagian timur Afrika , Asia Tenggara , Asia Timur , Australia dan Selandia Baru .
Rajungan (swimming crab) memiliki tempat hidup yang berbeda dengan jenis kepiting pada umumnya seperti kepiting bakau (Scylla serrata), tetapi memiliki tingkah laku yang hampir sama dengan kepiting. Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan jenis kepiting perenang yang juga mendiami dasar lumpur berpasir sebagai tempat berlindung. Jenis rajungan ini banyak terdapat pada lautan Indo-Pasifik dan India. Sementara itu informasi dari panti benih rajungan milik swasta menyebutkan bahwa tempat penangkapan rajungan terdapat di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali), Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan dan daerah Kalimantan Barat.
Dalam pertumbuhannya, rajungan (dan semua anggota Portunidae) sering berganti kulit. Kulit kerangka tubuhnya terbuat dari bahan berkapur dan karenanya terus tumbuh. Jika ia akan tumbuh lebih besar maka kulitnya akan retak pecah dan dari situ akan keluar individu yang lebih besar dengan kulit yang masih lunak. Rajungan yang baru berganti kulit, tubuhnya masih sangat lunak, diperlukan beberapa waktu untuk dapat membentuk lagi kulit pelindung yang keras. Masa selama bertubuh lunak ini merupakan masa paling rawan dalam kehidupan kepiting, karena pertahannya pun sangat lemah. Tidak jarang ia disergap, dirobek-robek dan dimakan oleh sesama jenisnya. Kanibalisme di kalangan rajungan tampaknya memang merupakan hal yang sering terjadi terutama dalam ruang terbatas, baik pada yang dewasa maupun yang masih larva. Seekor rajungan dapat menetaskan telurnya menjadi larva sampai lebih sejuta ekor. Larva yang baru menetas ini bentuknya sangat berlainan dari bentuk dewasa. Larva ini mengalami beberapa kali perubahan bentuk sampai mendapatkan bentuk seperti yang dewasa. Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang daripada rajungan. Di kepalanya terdapat semacam tanduk memanjang, matanya besar dan di ujung kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoea ini sendiri lagi dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain lagi. Berbeda dengan yang dewasa yang hidup di dasar, larva rajungan berenang-renang, terbawa arus, dan hidup sebagai plankton. Pada tahap megalopa, bentuknya sudah mulai mirip rajungan, tubuhnya makin melebar, kaki dan capitnya sudah jelas wujudnya, matanya sangat besar (bahkan bisa lebih besar dari mata yang dewasa). Barulah pada perkembangan tahap berikutnya terbentuk juvenil yang sudah merupakan rajungan muda.


SUMBER :
Cholik, F., A.G. Jagatraya., R.P. Poernomo. dan A, Jauzi. 2005. Akuakultur: Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa. Penerbit Masyarakat Perikanan Nusantara dengan Taman Akuarium Air Tawar Taman Mini ”Indonesia Indah”. Jakarta. 415 h
Ikan Mania. 2007. Pengamatan Aspek Biologi Rajungan dalam Menunjang Teknik Perbenihannya. http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/ pengamatan- aspek-biologi- rajungan- dalam- menunjang- teknik perbenihannya. (Akses 11 Juni 2010).
Mirzads. 2009. Pengemasan Daging Rajungan Pasteurisasi dalam Kaleng. http://mirzads.wordpress.com/2009/02/12/pengemasan-daging-rajungan-pasteurisasi-dalam-kaleng/. (Akses 11 Juni 2010).
Pulau Seribu.net. 2008. kepiting dan Kerabatnya. http://www.pulauseribu.net/modules/news/article.php?storyid=1154. (Akses 11 Juni 2010).
Roffi. 2006. Budidaya Rajungan. http://akuakultur.wordpress.com/2006/12/23/ budidaya-rajungan-2/. (Akses 11 Juni 2010).
Susanto, N. 2010. Perbedaan antara Rajungan dan Kepiting. http://blog.unila. ac.id/gnugroho/category/bahan-ajar/karsinologi/. (Akses 11 Juni 2010).
Tabloid Info. 2007. jalan pintas pembenihan rajungan. http://tabloid_info. sumenep.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=233&Itemid=28.



Sabtu, 10 Februari 2018

PEMBENIHAN IKAN PATIN



                                       
 Ikan Patin adalah sekelompok ikan berkumis atau Siluriformes yang termasuk dalam genus Pangasius dan famili Pangasiidae. Nama “Patin” juga diberikan pada salah satu anggotanya yaitu P. nasutus. Kelompok hewan ini memiliki banyak nilai ekonomi, seperti patin dan patin siam (P. hypophthalmus synonim. P. sutchi, atau beberapa menyebutnya jambal siam). Beberapa anggotanya hidup di Sungai Mekong dan diketahui memiliki ukuran sangat besar hingga mencapai panjang dua meter lebih.
Ikan patin banyak digemari masyarakat karena rasanya yang lezat dan dapat diolah menjadi berbagai olahan makanan seperti gulai, pindang, digoreng atau olahan yang lainnya. Kini banyak orang yang berusaha membudidayakan ikan patin ini.
Ikan patin merupakan  jenis ikan air tawar yang dapat dikomsumsi oleh manusia.Produknya termasuk unggulan sehingga banyak Pembudidaya yang mencoba usaha budaya ikan patin ini,Tekstur daging ikan patin ini memiliki banyak lemak dan agak basah namun tidak memiliki banyak duri.Harga ikan patin dipasaran cenderung stabil sehingga usaha budaya ikan patin ini cukup menjajikan dan berpotensi menghasilkan pendapatan besar.

Secara umum budidaya ikan patin terdiri dari dua kegiatan yakni pembenihan dan pembesaran. Kegiatan pembenihan ikan patin masih tergolong sesuatu yang jarang  diketahui sebab selama ini masyarakat lebih memilih mengambil benih ikan patin di Balai-balai penangkaran, sehingga usaha dibidang pembenihan ini sangan potensial dibandingkan di bidang pembesaran, apalagi proses yang dibutuhkan untuk panen sangatlah singkat dibandingkan pembesarannya, dan proses pembenihan ikan patin ini meliputi beberapa proses yaitu:

1.Memilih indukan yang siap di pijah
2.Menyiapkan hormon atau kelenjar hipofisa
3.Induce breeding atau proses kawin suntik
4.Striping atau kegiatan pengurutan
5.Proses penetasan larva
6.Proses pemeliharaan larva dan pendederan
7.Proses pemanenan dan pengangkutan

Proses Pembenihan Pada Budidaya Ikan Patin
Kegiatan pembenihan ikan patin upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu sehingga yang dihasilkan adalah benih yang diproduksi setelah masa pendederan.

1.     Pemilihan indukan
Untuk memilih indukan yang sudah matang gonad atau siap kawin dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara visual dan dengan alat bantu.
Cara Visual
Indukan ditangkap kemudian perhatikan besar kecilnya perut. Selain itu juga dapat dengan melihat warna kulit yang ada pada sekitar genital, jika warnanya kemerahan berarti telur telah matang. Atau juga dengan meraba perut, jika lembek berarti telur telah matang gonad.
Cara Alat Bantu
Alat bantu yang dapat digunakan untuk melihat apakah ikan patin telah matang gonad dapat dilakukan dengan menggunakan selang kanulasi atau kateter, cawan kaca bening, larutan transparan kertas milimeter dan lain sebagainya. Caranya:
Ikan ditangkap kemudian masukkan selang kanulasi ke saluran telur dengan perlahan dan hati-hati agar tidak menyentuh telur. Kemudian sedot untuk mendapatkan sampel telur, lalu ukur diameter telur dengan menggunakan mikroskop atau bisa juga dengan kertas milimeter, apabila telur berukuran sekitar 0,9 mm berarti telah matang gonad.
Selain cara itu, dapat juga dengan cara meletakkan telur dalam cawan kaca bening lalu diberi larutan trasparan, kemudian cawan diletakkan diatas lampu pijar atau senter dan amati posisi inti telur jika letaknya mendekati atau sudah berada di dinding telur erarti sudah matang gonad.
Untuk indukan jantan yang siap kawin dapat dilihat dengan cara mengurut bagian perutnya ke arah anus, jika keluar cairan putih berarti ikan jantan tersebut siap kawin.
Adapun kriteria indukan Patin yang siap dipijahkan adalah:
·      Berumur tiga tahun
·      Ukuran antara 1,5-2 kilogram
·      Perut membesar ke arah anus
·      Perut terasa empuk dan halus saat diraba
·      Kloaka membengkak  dan berwarna merah tua Kulit pada bagian perut lembek dan tipis
·      Ketika kloaka ditekan maka akan keluar beberapa butir telur dengan bentuk bundar yang besarnya seragam sedangkan pada induk jantan akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

2.   Menyiapkan hormon hipofisa dengan menggunakan ikan donor.
 Induk dengan berat 1 kg memerlukan hipofisa dari 3 kg sampai 4 kg ikan donor. Atau bisa juga dengan menggunakan ovaprim sesuai dengan dosis pada label.

3.    Penyuntikan indukan dengan hormon ovaprim/hipofisa,
adapaun tahapannya:
·      Induk-induk yang terpilih diberok (dipuasakan) dalam hapa atau bak penampungan selama satu hari.
·      Seleksi induk siap pijah melalui pengecekan kualitas telur dengan melihat apakah sudah benar-benar matang dan seragam.
·      Penyuntikan hormon dilakukan 2 kali, yang pertama sebanyak 1/3 bagian, dan yang kedua sebanyak 2/3 bagian dengan selang waktu penyuntikan 8 jam (waktu ovulasi 6 jam sampai 8 jam).

4.   Striping atau pengurutan
Merupakan proses mengeluarkan telur ikan patin dari indukannya dengan cara mengurut perut indukan ke arah lubang saluran telur hingga perut mengempis dan telur keluar semua. Kemudian campurkan sperma yang telah diambil dengan cara membedah induk jantan dan mengambil gonadnya. Campurkan telur dan sperma dengan ditambah larutan garam fisiologis (NaCl) dan diaduk dengan menggunakan bulu ayam.

5.   Penetasan telur
Hal yang mesti dilakukan adalah mempersiapkan medianya dengan kualitas air yang memiliki suhu 27 – 30oC, pH 6,5 - 7,5, DO > 5mg/l, dan ketinggian air 25 – 30cm. Padat tebar telur antara 6 – 10 butir/cm dan diinkubasi selama 25 - 30 jam.

6.   Pemeliharaan larva dan pendederan
Setelah 4 – 6 jam setelah menetas segera larva dipindahkan ke media pemeliharaan larva dengan kualitas air suhu 28 -30oC, pH 6,5 - 7,5, DO > 5mg/l, dan ketinggian air 30 – 50cm. Larva ditebar dengan kepadatan 15 ekor/l, dan diberi pakan berupa artemia dan cacing sutra. Kemudian untuk pendederan benih ditebar dikolam terpal dengan ketinggian 80 – 90cm dengan padat tebar 20 ekor/m2.

7.     Hama dan Penyakit
Hama
Serangan hama biasanya tidak separah serangan penyakit, hanya biasanya berukuran lebih besar daripada ikan dan bersifat pemangsa.
Penyakit
Secara umum penyakit yang menyerang ikan patin digolongkan ke dalam dua golongan yaitu penyakit yang timbul akibat adanya gangguan factor bukan patogen, penyakit ini tidak menular. Yang kedua yaitu penyakit yang timbul karena organisme patogen.
a. Penyakit non infeksi
Contoh penyakit non infeksi yaitu keracunan dan penyakit kekurangan gizi. Beberapa factor yang menyebabkan keracunan yaitu pemberian pakan yang kurang baik kualitasnya atu pencemaran air media akibat tumpukan bahan organic.
b. Penyakit Infeksi
NO
JENIS PENYAKIT
GEJALA
1.
Parasit
(Bintik Putih/White Spot)
o    Ikan berkumpul di tempat yang gelap
o    Menggosok-gosokan tubuhnya
2.
Bakteri
(Aeromonas sp)
o    Menyerang bagian punggung, perut dan pangkal ekor yang disertai dengan pendarahan
3.
Jamur
(Saproglegnia )
o    Luka di bagian tubuh, tutup insang, punggung, dan sirip yang ditumbuhi benang halus seperti kapas berwarna putih

Penanggulangan Penyakit
NO
JENIS PENYAKIT
PENGOBATAN
BAHAN KIMIA
BAHAN ALAMI
1.
Parasit
(Bintik Putih/White Spot)
Formalin 20 ppm
Malachite green 4 gr/lt selama 24 jam
Sambiloto yaitu dengan cara mengambil ekstraknya dan dilarutkan ke dalam air
2.
Bakteri
(Aeromonas sp)
PK 10-20 ppm selama 30-60 menit
Memakai kunyit  dengan cara diparut. Kunyit ini berfungsi untuk mengobati borok atau luka dan mempercepat pengeringan
3.
Jamur
(Saproglegnia )
Malachite green 2-3 gr/m3air selama 30 menit pengobatan diulang selama 3 hari berturut-turut
Memakai rimpang lengkuas yang diparut dan diambil ekstraknya


8.     Pengemasan Benih Dalam Budidaya Ikan Patin
Pengemasan benih ikan patin harus dapat menjamin keselamatan benih selama pengangkutan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan benih ikan patin yaitu:
·         Sediakan kantong plastik sesuai kebutuhan. Setiap kantong dibuat rangkap untuk menghindari kebocoran
·         Benih ikan telah di puasakan selama 18 jam, supaya menghindari kematian dari amoniak yang ditimbulkan oleh kotoran ikan
·         Satu persatu kantong diisi dengan oksigen murni (perbandingan air dan oksigen=1:2) Setelah itu diikat dengan karet gelang
·         Kantong-kantong  yang berisi benih dimasukkan kedalam kardus/styrofoam, untuk menghindari benturan yang mengakibatkan kebocoran
·         Lama pengangkutan benih ikan patin dapat diangkut selama  10 jam dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 98,67%


Referensi: