Rabu, 19 Juni 2019

MACAM MACAM PENYAKIT IKAN AIR TAWAR


                                          Hasil gambar untuk Penyakit  pada ikan mas
Beberapa macam penyakit ikan yang menyerang dan telah mewabah di daerah potensi perikanan wilayah indonesia masih menjadi kendala dan pasang surut produktivitas petani budidaya. Keadaan cuaca/iklim dan kondisi lingkungan yang menunjukkan penurunan daya dukung lahan semakin kentara. Disisi lain, tidak diimbanginya mutu perbenihan yang semakin anjlok, meskipun telah muncul berbagai varian genetik ikan air tawar, namun persebarannya kurang merata dan harus dilakukan adapatasi yang memakan waktu mengingat posisi alam indonesia pada belahan bumi tropis.

1. KHV (Koi Herpes Virus)
Koi Herpes Virus yang kabarnya masih menjadi momok bagi pembudidaya ikan mas (Cyprinus carpio sp.). Dari data Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan dan Balai Riset Perikanan Budidaya (Ditkeskanling dan BRPB) bahwa penyebaran virus KHV telah merambah di seluruh nusantara Indonesia

Penyebaran penyakit, terutama infeksi virus akan terus menyebar tanpa bisa dikendalikan, karena dapat melelui media udara. Jika kita kembalikan kepada pemahaman tentang sifat virus sendiri yang tidak dapat masuk ke dalam tubuh inang selama ikan tersebut dalam kondisi sehat, berarti masih ada sebuh harapan besar yang dapat kita jadikan tuntunan bahwa begitu pentingnya menjaga kesehatan ikan atau melakukan sebuah langkah pencegahan. Karena apabila sudah terinfeksi dan virus telah dapat merusak sistem organ dalam tubuh ikan, tidak akan ada harapan dan yang terjadi adalah menunggu kematian ikan.
Gejala timbulnya penyakit KHV berawal dari kondisi suhu perairan dan lingkungan yang tidak  bersahabat, lonjakan naik turunnya suhu kerap menimbulkan efek negative. Diketahui dari hasil riset internasional bahwa pertumbuhan KHV terjadi pada suhu 15 – 25 oC. Aktivitas serangan virus bersifat akut (mematikan) hingga 80 – 100% kematian pada ikan, menghasilkan kerusakan jaringan cukup luas dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Infeksi virus sering dilanjutkan dengan infeksi sekunder oleh bakteri ataupun didahului oleh infeksi sekunder oleh organisme parasit misalnya Argulus (kutu ikan), Lernea dan lain-lain.

                                           Hasil gambar untuk penyakit khv pada ikan mas

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa kondisi ikan mas yang terserang penyakit KHV selalu ditandai dengan luka atau memar merah pada bagian insang ikan. Diawali dengan tingkah laku ikan yang berenang tanpa arah atau memutar-mutar, bernafas dengan terengah-engah (megap-megap) pada permukaan air, kelaurnya lendir, mata cekung dan bengkak pada bagian insang. Virus menginfeksi dengan serangan pertama pada insang yang merupakan organ vital dalam pernafasan ikan, kemudian menjangkit pada organ dalam tubuh ikan yakni ginjal dan merusak system pencernaan usus sehingga nafsu makan turun drastis. Virus tetap infectif selama 4 jam didalam air sehingga dapat menular pada ikan yang lain dengan kondisi labil. Infeksi sekunder bakteri juga menyebabkan banyak terjadi luka-luka pada bagian sisik atau tubuh ikan. Hingga sekarang ini, KHV dapat mewabah sewaktu-waktu pada budidaya kolam kita, untuk itu tindakan insentif dalam pencegahan harus tetap dilakukan dengan pengelolaan air yang baik, pemberian multivitamin atau supplemen untuk membantu menguatkan daya tahan tubuh ikan perlu diterapkan.

2. Aeromonas hidrophyla
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri aeromonas ini dapat menjangkit semua jenis ikan air tawar di Indonesia. Dimana-mana bakteri-bakteri ini hampir selalu ditemukan dan hidup di air kolam, di permukaan tubuh ikan dan pada organ-organ tubuh bagian dalam ikan.  Bakteri ini mudah berkembang biak dalam kondisi perairan dengan segala suhu dan perubahan lingkungan.
Keberadaannya tidak begitu berbahaya, namun dalam jumlah yang banyak di perairan, bakteri selalu siaga mengintai kondisi labil ikan dan ketidakstabilan air untuk bergerak dan menimbulkan penyakit. Infeksi yang sering terjadi biasanya berkaitan dengan kondisi stress ikan yang diakibatkan oleh beberapa hal. Untuk itu perlu diperhatikan secara lebih serius.
Faktor kepadatan (kuantitas) ikan dalam kolam adalah penyebab yang sering mengakibatkan ikan stress. Daya tampung benih harus diperhitungkan secara matang agar tidak terjadi over capacity yang mengakibatkan ikan kekurangan ruang gerak dan oksigen untuk bernafas pada saat usia dewasa, atau dapat dilakukan sortir atau pendederan.
Malnutrisi atau pola makan yang tidak seimbang antara frekwensi pembarian pakan dan nilai gizi pakan. Kebutuhan pakan ikan dapat dipenuhi dengan adanya pakan alami dalam perairan ataupun pakan buatan yang disuplai dari luar. Untuk lebih memaksimalkan pertumbuhan dan mencegah terjadinya malnutrisi dapat digunakan supplemen tambahan yang membantu menambah nilai gizi pakan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ikan dengan melakukan sampling setiap minggunya agar diketahui secara pasti kurang labihnya kebutuhan pakan yang diberikan.
Hasil gambar untuk aeromonas pada ikan mas


 Ilmu pengetahuan yang berkembang menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila dapat memanfaatkan albumin, kasein, fibrinogen, dan gelatin sebagai substrat protein. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bakteri ini bersifat proteolotik . sehingga berpotensi besar sebagai patogen ikan. Adanya enzim proteolitik akan merusak dinding intenstin, sehingga terjadi penebalan dinding, udem dan semi transparan . Ketika Aeromonas hydrophila masuk ke dalam tubuh inang, maka toksin yang dihasilkan akan menyebar melalui aliran darah menuju organ.
LPS dapat menyebabkan peradangan, demam, penurunan kadar besi, dan pembekuan darah. Disamping mampu memproduksi eksotoksin dan endotoksin sebagai faktor virulensi, Aeromonas hydrophila patogen juga memiliki kemampuan untuk menempel pada sel tubuh ikan melalui aktifitas adhesins
Serangan yang ditimbulkan bersifat akut dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, dapat menyebabkan kematian missal. Ditandai dengan timbulnya luka-luka memar atau borok disekujur tubuh dan kepala ikan. Penyakit ini dapat menular bebas melalui air, kontak badan dan peralatan yang tersemar olah bekteri tersebut. Untuk itu faktor kepadatan dan kualitas air harus benar-benar dijaga dengan system pencegahan yang lebih efektif.

3. Bintik putih “ich”
Penyebaran penyakit ini sangat cepat, terutama pada suhu optimalnya (15-25° Q. pada suhu 30° C atau lebih, penyakit ini akan mati atau siklusnya berhenti. Siklus hidup parasit ini terbagi dalam beberapa fase, yaitu parasiter (tropozoit), pre-kista (tomont), kista (trophont), post-kista (theront).


Siklus hidup ini terjadi selama 6 hari pada suhu 25° C, 10 hari pada suhu 15°, dan lebih sebulan pada suhu 10° C. Fase parasiter merupakan fase aktif yang membentuk nodula (spot atau bintik) putih di kulit dan epitel insang ikan. Bila sudah dewasa, parasit akan keluar dari nodula dan membentuk pre-kista yang berenang bebas mencari tempat menempel seperti akuarium, serokan, dan tanaman air.Di tempat menempelya pre - kista akan berkembang menjadi kista yang di dalamnya berisi tomite.
Tomite inilah yang akan membelah menjadi banyak. Pembelahan tomite menyebabkan kista pecah sehingga tomite keluar. Tomite selanjutnya akan berkembang menjadi bentuk post-kista. Fase inilah yang aktif menyerang ikan. Jumlahnya di dalam air sangat banyak. Setiap kista dapat menghasilkan lebih dari 1.000 post-kista.
Berdasarkan sumber lain, bahwa penyakit ini sering terjadi pada musim hujan dengan suhu berkisar 20 - 24oC, selain itu pH perairan yang cepat naik turun pada musim penghujan juga memperkuat argument bahwa fluktuasi air kolam lebih drastis.

Ikan yang terserang akan kehilangan fungsi insang sehingga mengganggu respirasi. Selain itu ikan menjadi malas berenang dan Akibat serangan penyakit berbahaya ini, tubuh ikan banyak dijumpai bintik-bintik putih sehingga penyakit ini disebut White spot. Apabila telah menyebar keseluruh tubuh, dapat menimbulkan kematian. Terkesan lebih tragis bahwa pada serangan cukup serius, ikan akan menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding akuarium atau kolam sehingga menimbulkan luka. Luka dapat mengalami infeksi sekunder oleh cendawan.
Walaupun kebanyakan yang diserang adalah benih ikan berukuran 1-5 cm, namun penyakit ini pun sering menyerang ikan besar maupun kecil. Begitu hebat perkembangan siklus hidup dan penyebaran parasit ini, untuk itu perlu lebih significant dalam melakukan tindakan pencegahan, minimal dengan cara memberok ikan pada air mengalir atau kepadatan ikan dikurangi.

4. Streptococcus
Streptococcosis memang tidak masuk ke dalam daftar penyakit ikan yang dianggap sangat berbahaya oleh Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan, sebagaimana MAS, KHV, WSSV atau pun VNN. Tetapi, meski tak masuk dalam daftar tersebut, bukan berarti penyakit streptococcosis bisa dianggap remeh oleh para pembudidaya ikan nila. Pada manajemen budidaya yang kurang baik, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian masal. “Pada fase pembesaran, kematian bisa sampai 100%.
Penyakit streptococcosis ini biasanya muncul pada saat adanya perubahan cuaca secara drastis, dari panas ke hujan maupun sebaliknya. “Jika siangnya panas terik, kemudian sore harinya terjadi hujan, penyakit ini berpotensi akan muncul”.
Dalam banyak kasus, bakteri Streptococcus menyerang ikan nila pada ukuran tertentu. “Biasanya pada saat ukuran ikan menjelang 50 gram. Setelah itu, dia akan menyerang lagi saat ikan berukuran antara 100-250 gram,” ujarnya. Ini berarti ancaman yang sama besar ditujukan baik kepada para pendeder (saat ikan berukuran di bawah 50 gram) maupun pembudidaya pembesaran (saat ikan berukuran 100-250 gram).
Bakteri Streptococcus ini akan masuk ke  dalam tubuh ikan nila lewat infeksi melalui sistem pencernaan. Gejala ditandai dengan penampakan perut ikan yang terlihat agak kembung. Selanjutnya bakteri akan masuk aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, hingga ke ginjal. “Jika dilakukan bedah bangkai ginjal kelihatan pucat dan bengkak,”
Pada fase ini, nafsu makan ikan akan berkurang, sehingga ikan lebih mudah stres, daya tahan menurun. Tahap lanjut, toksin (racun-red) dari bekteri mulai menyebar mengganggu syaraf, hingga akhirnya menyerang syaraf pusat, yaitu otak. “Kalau sudah sampai syaraf, sulit untuk diatasi. Pada fase ini ikan menunjukkan gejala berputar-putar (whirling) menyerupai gangsing, dan akhirnya ikan tersebut mati.
Celakanya, waktu yang dibutuhkan bakteri streptococcus ini dari menginfeksi ikan nila sampai pada fase whirling relatif singkat. “Rata-rata hanya butuh waktu antara 7-14 hari, tergantung dari kondisi ikan nila,” sambung Heny. Serangan bakteri Streptococcus ini ternyata tidak hanya mengakibatkan ikan berputar-putar dan kemudian mati, tetapi juga dapat mengakibatkan penyakit popeye, dengan ciri-ciri; mata menonjol, bengkak dan berdarah.

  
 Sumber : 
 Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan dan Balai Riset Perikanan Budidaya (Ditkeskanling dan BRPB

Kamis, 13 Juni 2019

IKAN MAS MAJALAYA : IKAN MAS UNGGULAN

                                      Hasil gambar untuk IKAN MAS MAJALAYA

Ikan Mas (Cyprinus carpio L) adalah salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang paling banyak dibudidayakan petani baik budidaya pembenihan, pembesaran di kolam pekarangan ataupun air deras (Running Waer). Produksi ikan mas dapat mencapai di atas rata-rata ikan konsumsi lainnya. Dikalangan petani maupun masyarakat, ikan mas telah lama dikenal dan disukai (dikonsumsi) sehingga pemasaranya tidaklah sulit. Selain itu sebagai ikan budidaya ikan mas memiliki keunggulan yaitu dapat dikembangbiakan hanya dengan perbaikan lingkungan atau menipulasi lingkungan dan kawin suntik (Hyphofisa).

Varietas majalaya merupakan ikan mas yang paling banyak dibudidayakan karena memiliki keunggulan-keunggulan baik secara fisik, fisiologis maupun genetik. Ikan ini pertama dikembangkan di daerah Majalaya, Bandung, merupakan hasil seleksi Bapak H. Ayub. Informasi pertama adanya varietas ini berasal dari Bapak H. Ajin sebagai petugas perikanan Kecamatan Majalaya. kemudian pada tahun 1974 varietas ini mulai diteliti oleh Lembaga Peneltian Perikanan Darat (kini Balai Penelitian Perikanan Air Tawar) dan dikembangkan oleh Pangkalan Budidaya Air Tawar (kini Balai Budidaya Air Tawar) serta Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.Ikan mas majalaya mulai dikenal luas oleh masyarakat pada tahun 1975 melalui budidaya intensif kolam air deras dan saat ini tersebar dihampir setiap seluruh wilayah Indonesia sebagai ikan konsumsi. Pelepasan varietas ikan ini diajukan berdasarkan hasil-hasil penelitian ke-tiga institusi tersebut di atas.
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut :
Kelas : Pisces
Sub kelas : Telesostei
Ordo : Ostariophysi
Sub ordo : Cyprinoidea
Family : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus carpio L.
Ciri-ciri ikas mas majalaya yang sering dijumpai di masyarakat dewasa ini adalah sisiknya berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap. Punggung tinggi dan badannya relative pendek. Baggian kuduk atas antara kepala dan punggung melekuk. Penampang melintang badan kian menipis kea rah punggung, lebih tipis dari ras lainnya. Gerakannya lamban, bila diberi makanan suka berenang pada permukaan air. Perbandingan panjang badan dengan badan antara 3 : 2 : 1.
3. Kebiasaan Hidup dan Kebiasaan Makan
Kebiasaan hidup ikan mas, biasanya memijah pada perairan dangkal, setelah mengalami kekeringan musim kemarau dan menempelkan seluruh telurnya pada tanaman atau rerumputan di tepian perairan. Ikan dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150 – 1.000 meter diatas permukaan laut, suhu air 200 – 250C, pH air antara 7-8. Ikan mas sering mencari makanan (jasad-jasad renik) disekeliling pematang. Oleh karena itu pematang serig rusak dan longsor, ikan mas juga suka mengaduk-aduk dasar kolam untuk mencari makanan yang bias dimanfaatkan seperti larva insecta, cacing-caingan dan lain sebagainya.
Varietas majalaya merupakan galur murni yang potensial yang menghasilkan keturunan unggul, khususnya melalui persilangan dengan betina ikan mas varietas sinyonya.
Di Indonesia, ikan mas (Cyprinus carpio L.) sudah lama dikenal dan dikembangkan oleh para petani. Beberapa strain ikan mas yang dikenal oleh masyarakat antara lain Majalaya, Sinyonya, Punten, Mas Kaca, Kancra Domas, Merah Cangkringan dan lain-lain.

Ikan mas strain Majalaya yang sempat booming pada dekade 1970 – 1990-an saat ini mulai kehilangan pamor. Ikan yang kini banyak dikembangkan petani ikan di Kab. Bandung, khususnya Majalaya kini jarang yang benar-benar strain Majalaya.

Ikan mas strain Majalaya merupakan jenis ikan hasil seleksi yang secara taksonomi termasuk spesies Cyprinus carpio linneaus dan pertama kali ditemukan dari daerah Majalaya. Ikan jenis ini berwarna hijau keabu-abuan, mulai dari kepala bagian atas sampai pangkal ekor bagian atas, bersisik penuh, badan lebar, perut besar, kepala kecil, mata menonjol, bentuk kuduk melengkung, dan kecepatan tumbuh relatif tinggi.
Dibandingkan ikan mas jenis lain, ikan mas strain Majalaya memiliki bentuk tubuh yang lebih pendek. Namun memiliki duri yang lebih sedikit serta unggul dari segi rasa.
“Induk ikan mas strain Majalaya tidak sebanyak pada dekade tahun 1970 sampai 1990-an. Jumlah indukannya mulai berkurang, tinggal beberapa kelompok tani ikan yang mempertahankan keaslian ikan mas asli Majalaya,” kata Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kab. Bandung, Diar Hadi Gusnidar di SoreangPemkab Bandung berupaya mengembalikan kejayaan ikan mas straim Majalaya, salah satunya dengan memberikan bantuan bibit yang asli. Tahun 2012 disalurkan bantuan sebanyak 600 kilogram benih ikan dan tahun ini 400 kg .
budi daya ikan mas di Kab. Bandung tersebar di 98 unit pembenihan rakyat (UPR) dengan tingkat produksi rata-rata mencapai 4.000 ton/tahun. Sentra pembenihan dan pendederan ikan mas antara lain di Majalaya, Ibun, Pacet, dan Ciparay

Ciri ciri ikan Mas Majalaya
o    Ukuran badannya relative pendek
o    Bentuk punggung lebih membungkuk dan lancip
o    Sisiknya berwarna hijau keabuan dan bagian tepinya berwarna lebih gelap, kecuali di bagian bawah insang dan di bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan.
o    Keunggulan mas majalaya diantaranya adalah laju pertumbuhannya relatif cepat, tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, rasanya lezat dan gurih, dan tersebar luas di Indonesia. Fekunditas mas majalaya yakni 84.000-110.000 butir per kilogram induk.
o    Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yg banyak dibudidayakan.

Varietas majalaya merupakan ikan mas yang paling banyak dibudidayakan karena memiliki keunggulan-keunggulan baik secara fisik, fisiologis maupun genetik. Ikan ini pertama dikembangkan di daerah Majalaya, Bandung, merupakan hasil seleksi Bapak H. Ayub. Informasi pertama adanya varietas ini berasal dari Bapak H. Ajin sebagai petugas perikanan Kecamatan Majalaya. kemudian pada tahun 1974 varietas ini mulai diteliti oleh Lembaga Peneltian Perikanan Darat (kini Balai Penelitian Perikanan Air Tawar) dan dikembangkan oleh Pangkalan Budidaya Air Tawar (kini Balai Budidaya Air Tawar) serta Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Varietas majalaya mulai dikenal luas oleh masyarakat pada tahun 1975 melalui budidaya intensif kolam air deras dan saat ini tersebar dihampir setiap seluruh wilayah Indonesia sebagai ikan konsumsi. Pelepasan varietas ikan ini diajukan berdasarkan hasil-hasil penelitian ke-tiga institusi tersebut di atas.
Sifat Reproduksi Induk
o    Indek Ovi Somatik : rata-rata sekitar 17%
o    Diameter telur : sekitar 1,4 – 1,6 mm
o    Fekunditas : 84.000 – 110.000 butir/kg induk
o    Panjang larva : 4 – 7 mm
Umur matang kelamin pertama :
o    Jantan : 9 bulan
o    Betina : 18 bulan

Sifat Benih
Laju pertumbuhan harian (%)
Laju pertumbuhan harian pada berbagai tingkat ukuran dan teknik budidaya dengan pemberian pakan komersial (protein 26-28%), sebanyak 3-5% dari bobot ikan per hari dengan frekuensi 3 kali per hari adalah sebagai berikut:
Di kolam
o    Pendederan (4,0 sampai 20 g) : 5,8%
o    Pembesaran (20 sampai 120 g) : 1,95%
o    Pembesaran (115 sampai 412 g) : 1,07%
Di kolam air deras
o    Pembesaran (100 sampai 450 g) : 1,5-2,0%
DI keramba jaring apung
o    Pembesaran (20 sampai 100 g) : 2,5-4,0%

Berdasarkan keungggulan sifat-sifat genetis dan disukai oleh masyarakat luas, varietas majalaya menjadi salah satu jenis ikan konsumsi penting bagi perikanan budidaya air tawar. Pemeliharaan oleh petani dilakukan pada berbagai skala dan tingkat teknologi, mulai dari yang bersifat ekstensif di kolam-kolam tanah sampai yang bersifat intensif di kolam air deras maupun keramba jaring apung.

Sumber :


Selasa, 11 Juni 2019

MENGENAL UDANG WINDU


                                  Hasil gambar untuk WINDU udang

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata 'udang windu'? Pasti dalam sekejap kita langsung memikirkan sebuah masakan seafood yang lezat dan siap untuk disantap. Memang benar bahwa udang windu adalah salah satu hasil perikanan yang menjadi salah satu sumber makanan kita, terutama jenis masakan laut. Tapi tidak afdol rasanya bila kita pernah memakan udang tersebut tanpa mengetahui lebih jauh tentang apa yang kita bawa masuk ke dalam mulut. Nah, kali ini saya akan menuliskan beberapa wawasan mengenai udang windu.

Udang windu, atau dalam bahasa latinnya disebut Penaeus monodon, merupakan salah satu dari sekian banyak jenis udang-udangan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia, terutama sebagai bahan konsumsi. Udang ini termasuk ke dalam famili Penaeid, dimana kerabat-kerabat dekat mereka yang lain diantaranya adalah udang kuruma (Penaeus japonicus), udang ekor merah (Penaeus penicillatus) dan udang indian (Penaeus indicus). Udang windu tergolong sebagai spesies dari kelas crustacea dan filum arthropoda. Digolongkan ke dalam hewan crustacea karena mereka memiliki lapisan keras yang disebut carapace yang membungkus tubuhnya. Sedangkan penggolongan udang windu ke dalam filum arthropoda karena mereka memiliki tubuh yang tersegmentasi atau terbagi menjadi segmen-segmen serta sendi-sendi.

Populer di Indonesia sebagai udang windu, udang ini dikenal juga di seantero dunia dengan nama udang macan atau 'tiger shrimp'. Udang ini memiliki ciri-ciri morfologi yang berbeda dengan udang-udang lainnya. Meskipun secara struktur, tubuh udang windu secara umum memiliki bagian-bagian yang sama dengan udang yang lain. Beberapa ciri dari udang windu adalah sebagai berikut :
1. Memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada udang-udang biasanya.
2. Tubuh mereka terbagi menjadi beberapa bagian yaitu bagian kepala dan dada (cephalotorax), bagian perut (abdomen), serta bagian ekor (uropod).
3. Tubuh udang windu tertutupi oleh lapisan eksoskeleton yang cukup keras. Lapisan ini disebut carapace dan tersusun atas zat kitin. Lapisan ini terlihat jelas membungkus mulai dari bagian cephalotorax hingga bagian ekor.
4. Mempunyai sepasang antenna dan sepasang antenulla pada bagian kepala. Antenna merupakan semacam sungut yang besar dan panjang. Antenna ini berfungsi untuk mendeteksi mangsa di sekitarserta berguna juga sebagai sensor jarak jauh. Sedangkan antenulla adalah sejenis sungut juga melainkan lebih kecil dan pendek dari antenna. Antenulla ini sama-sama berjumlah sepasang dan bertugas sebagai organ keseimbangan.
5.Pada ujung atas kepala memiliki semacam cucuk tajam yang dinamakan rostrum. Rostrum adalah perpanjangan dari lapisan carapace yang meruncing dan bertugas sebagai alat pertahanan tubuh.
6. Memiliki sepasang maxillapoda, sejenis capit kecil yang bertugas sebagai organ pembawa makanan ke dalam rahang mulut. 
7. Pada bagian bawah dari cephalotorax terdapat lima pasang kaki gerak atau pereiopod. Sedangkan pada sisi bawah bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang yang kecil.
8. Memiliki ekor yang disebut sebagai uropod. Uropod ini berfungsi sebagai pengendali dan penentu arah gerak dari udang windu. Pada uropod terdapat salah satu ujung runcing yang disebut sebagai telson. Telson ini berfungsi untuk keseimbangan.

Habitat udang windu yang sebenarnya adalah laut, meskipun sering juga ditemukan di perairan yang payau. Mereka biasa hidup di air dengan salinitas berkisar antara 15-30 ppt. Sebenarnya, lingkungan tempat tinggal antara spesies yang dewasa dan yang masih muda itu berbeda. Udang windu muda (juvenil) akan memilih habitat di perairan yang dangkal seperti di sekitar muara atau bahkan daerah hutan mangrove saat terjadi pasang air laut. Ketika mereka beranjak dewasa, mereka akan pindah ke daerah perairan yang lebih dalam dengan kedalaman kurang lebih 20-50 meter. Penaeus monodon dewasa lebih suka daerah dengan kondisi perairan yang tenang dan jernih. Terkadang kita bisa menemukan mereka sedang berenang di dekat dasar perairan ataupun juga berjalan di substratnya.

Bicara soal habitat tentu tidak bisa lepas dari persebaran atau distribusi. Udang windu sendiri memiliki distribusi yang cukup mendunia. Hal ini dikarenakan banyaknya bermunculan pembudidaya serta peternak udang windu di berbagai pelosok bumi. Beberapa daerah yang memiliki keunggulan dalam pendistribusian udang windu adalah daerah-daerah di pesisir Indochina, Indonesia, Jepang, Taiwan, hingga ke Laut Merah di benua Afrika.

Udang windu atau udang macan memiliki pencernaan yang sederhana. Sistem pencernaan mereka secara mendasar bisa dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian depan, tengah, dan belakang. Pada bagian depan terdapat dua organ pencernaan berupa oseophagus dan lambung yang disebut proventriculum. Fungsi dari oseophagus ini sama dengan kerongkongan pada hewan-hewan lain, dimana oseophagus ini akan menerima makanan yang masuk dan menyalurkannya menuju lambung untuk dicerna dengan enzim-enzim tertentu. Setelah dicerna, makanan akan dialirkan menuju bagian tengah dari sistem pencernaan. Di sini terdapat usus tengah atau mesenteron yang berfungsi sebagai penyerap sari-sari makanan yang ada. Kemudian, sistem pencernaan akan berakhir pada bagian belakang dimana terdapat usus belakang atau prodacteum yang akan mengalirkan sisa-sisa pencernaan keluar melalui anus di bagian ujung abdomen.


Udang windu merupakan hewan yang berisfat nokturnal. Mereka akan aktif untuk mencari makan ataupun berkembang biak pada malam hari dan lebih memilih untuk bersembunyi di antara bebatuan di saat siang. Spesies udang windu rata-rata merupakan hewan karnivora, meskipun telah ditemukan juga kasus dimana mereka menjadikan algae sebagai makanan mereka. Udang windu sendiri memiliki makanan yang cukup beragam. Didominasi oleh hewan-hewan invertebrata air kecil, mereka juga memakan biota perairan yang lain seperti udang kecil, kerang, dan juga ikan-ikan kecil. 
Sebagai hewan yang berhabitat di air, udang menggunakan insang sebagai organ pernafasan mereka. Berbeda dengan insang milik ikan, insang udang windu terletak pada ujung awal dari maxillapoda dan kaki gerak mereka, terlindung dengan baik di dalam lapisan carapace di bagian cephalotorax.

Layaknya biota yang lain, udang windu juga memiliki daur hidup atau fase-fase yang harus dilalui selama hidupnya. Awalnya, udang windu muda akan menyukai daerah-daerah dangkal seperti muara air payau yang salinitasnya rendah. Seiring dengan berjalannya usia, mereka akan pindah ke habitat yang lebih dalam, lebih tenang, dan lebih jernih untuk membantu proses pertumbuhannya. Udang yang bercorak seperti macan ini akan mencapai kematangan secara seksual pada usia 1,5 tahun. Setelah mencapai fase tersebut, mereka akan melakukan perkawinan dan kemudian menghasilkan keturunan mereka yang baru. Umumnya, perkawinan udang windu terjadi pada waktu malam, lebih sering lagi ketika sedang bulan purnama.

Proses pembuahan yang dilakukan oleh udang windu terjadi melalui beberapa tahap, yaitu :
1. Udang windu jantan akan melepaskan sperma dari petasma atau gonofor jantan yang terletak di pasangan kaki jalan ketiga.
2. Sperma tersebut akan dimasukkan ke dalam tellicum atau gonofor betina yang berposisi di pasangan kaki jalan kelima tubuh spesies betina.
3. Induk betina akan mengeluarkan sel telur dan terjadilah pembuahan.
4. Telur hasil pembuahan tersebut akan dilepas ke badan air dan melayang-layang di sekitar dasar perairan yang dalam selama beberapa waktu.
5. Telur tersebut akan tumbuh menjadi larva planktonik yang secara bertahap akan naik ke permukaan.
Larva udang windu yang baru menetas dari telurnya tidak serta-merta menyerupai bentuk tubuh yang sama seperti udang windu dewasa. Mereka harus melalui beberapa tahap terlebih dahulu baru akan mempunyai ciri-ciri seekor udang windu yang telah dewasa. Tahap-tahap tersebut adalah:
1. Nauplius : Durasi dari tahap ini memakan waktu sekitar 46-50 jam dan mengalami 6 kali pergantian kulit (moulting).
2. Zoea : Lama waktu fase zoea sekitar 96-120 jam dan mengalami moulting sebanyak 3 kali.
3. Mysis : Durasi waktu dan jumlah pergantian kulit sama dengan fase zoea. Pada fase ini, bentuk tubuh sudah mulai menyerupai udang dewasa namun berukuran sangat kecil.
4. Post-larva : Semakin mirip dengan spesies yang dewasa dan mengalami pertambahan ukuran tubuh.
5. Juvenille : Disebut juga sebagai udang muda.
6. Udang dewasa.
Udang windu merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat penting dalam perekonomian global. Menurut data dari Monterey Bay Aquarium (2013), seluruh proses budidaya, peternakan, dan juga penangkapan udang windu secara tradisional maupun modern telah mencakup total 47% dari keseluruhan produksi udang serta lobster di dunia. Sebuah angka yang menunjukkan bahwa permintaan masyarakat akan tiger shrimp ini sangat tinggi. Masyarakat di seluruh dunia memanfaatkan udang windu sebagai sumber makanan. Udang windu sangat digemari karena beberapa hal. Diantaranya adalah kandungan gizinya yang tinggi, kadar lemaknya yang rendah, dan yang pasti rasanya lebih gurih dan enak.
Sumber :
http://exploreoursea.blogspot.com/2014/01/lebih-dekat-dengan-udang-windu_15.html

APA ITU GREEN BELT ?



                                              Hasil gambar untuk green belt

Perairan pesisir menurut Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 1 ayat 1, merupakan suatu wilayah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 mil diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna. Salah satu potensi yang sangat penting keberadaannya di wilayah pesisir adalah hutan mangrove. Dimana mangrove, dapat tumbuh di daerah pantai-pantai yang terlindung dari aktivitas gelombang besar dan arus pasang surut air laut dan tumbuh optimal di wilayah pantai yang memiliki muara sungai besar serta estuari dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur.
Hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem wilayah pesisir dan lautan yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, namun sudah semakin kritis ketersediaannya. Di beberapa daerah wilayah pesisir di Indonesia sudah terlihat adanya degradasi dari hutan mangrove akibat penebangan hutan mangrove yang melampaui batas kelestariannya. Hutan mangrove telah dirubah menjadi berbagai kegiatan pembangunan seperti perluasan areal pertanian, pengembangan budidaya pertambakan, pembangunan dermaga dan lain sebagainya. Hal seperti ini terutama terdapat di Aceh, Sumatera, Riau, pantai utara Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, dan Kalimantan Timur. Kegiatan pembangunan tidak perlu merusak ekosistem pantai dan hutan mangrovenya, asalkan mengikuti penataan yang rasional, yaitu dengan memperhatikan segi-segi fungsi ekosistem pesisir dan lautan dengan menata sempadan pantai dan jalur hijau dan mengkonservasi jalur hijau hutan mangrove untuk perlindungan pantai, pelestarian siklus hidup biota perairan pantai (ikan dan udang, kerang, penyu), terumbu karang, rumput laut, serta mencegah intrusi air laut. Salah satunya model pendekatan pengelolaan sumberdaya alam termasuk didalamnya adalah sumberdaya hutan mangrove adalah pendekatan pengelolaan yang berbasis masyarakat.
Hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa species pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.
Hutan mangrove disebut juga “Coastal Woodland” (hutan pantai) atau “Tidal Forest” (hutan surut)/hutan bakau, yang merupakan formasi tumbuhan litoral yang karakteristiknya terdapat di daerah tropika.
Fungsi ekosistem mangrove mencakup: Fungsi fisik; menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari erosi laut (abrasi) dan intrusi air laut; dan mengolah bahan limbah. Fungsi biologis ; tempat pembenihan ikan, udang, tempat pemijahan beberapa biota air; tempat bersarangnya burung; habitat alami bagi berbagai jenis biota. Fungsi ekonomi sebagai sumber bahan bakar (arang kayu bakar), pertambakan, tempat pembuatan garam, dan bahan bangunan.
Ekosistem mangrove, baik secara sendiri maupun secara bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik maupun secara biologis, disamping itu, ekosistem mangrove merupakan sumber plasma nutfah yang cukup tinggi (misal, mangrove di Indonesia terdiri atas 157 jenis tumbuhan tingkat tinggi dan rendah, 118 jenis fauna laut dan berbagai jenis fauna darat. Ekosistem mangrove juga merupakan perlindungan pantai secara alami untuk mengurangi resiko terhadap bahaya tsunami. Karena karakter pohon mangrove yang khas, ekosistem mangrove berfungsi sebagai peredam gelombang dan badai, pelindung abrasi, penahan lumpur, dan perangkap sedimen.
.
Mangrove adalah formasi vegetasi yang tumbuh di daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri – ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Mangrove tumbuh tersebar hampir di seluruh kawasan pesisir Indonesia terutama di wilayah pesisir timur Sumatera, Kalimatan, Sulawesi, dan Papua. Luas potensial hutan mangrove Indonesia adalah 8,6 juta hektar yang terdiri dari 3,8 juta hektar di dalam kawasan hutan dan 4,8 juta hektar berada di luar kawasan hutan.
Indonesia memiliki sebanyak tidak kurang dari 89 jenis pohon mangrove, atau paling tidak menurut FAO terdapat sebanyak 37 jenis. Dari berbagai jenis mangrove tersebut, yang hidup di daerah pasang surut terdapat sekitar 12 famili. Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang paling banyak ditemukan antara lain adalah jenis api – api (Avicennia sp.), bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp.). Sebagai salah satu negara yang mempunyai luas hutan mangrove terbesar di dunia, negara Indonesia memiliki posisi penting untuk memenuhi mandate internasional dalam mengonservasi sumber daya hayati yang mempunyai manfaat global. Namun sayangnya, Departemen Kehutanan Republik Indonesia pada tahun 2007 melaporkan bahwa sekitar 69% hutan mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak dan sisanya 31% dari hutan mangrove tersebut berada dalam kondisi tidak rusak. Kerusakan hutan mangrove paling utama terjadi karena akibat dari kegiatan manusia seperti konversi lahan mangrove menjadi tambak, kegiatan reklamasi dan pertambangan, serta penebangan liar yang mengakibatkan degradasi hutan mangrove mencapai sebesar 200 ribu hektar setiap tahunnya.
Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam undang undang no 41 tahun 1999 untuk melindungi hutan mangrove yang wajib dilestarikan. Strategi yang diterapkan untuk kelestarian dalam pengelolaan hutan mangrove, yaitu sosialisasi fungsi hutan mangrove yang akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi dari hutan mangrove untuk perairan pantai, rehabilitasi dan konservasi, serta kerja sama yang baik antara stakeholders yaitu pemerintah, LSM, dan masyarakat serta lembaga lain yang terkait.
Cara lain yang dapat digunakan dalam menjamin kelestarian hutan mangrove untuk pengelolaan konservasi hutan mangrove salah satunya yaitu memberikan wisata edukatif bagi masyarakat, memberikan peluang usaha bagi masyarakat sekitar, mendukung pelestarian dan pengembangan seni dan budaya lokal, dan meningkatkan pendapatan negara dan pendapatan asli daerah yang dapat dimulai dari melakukan upaya-upaya pengembangan pariwisata alam khususnya pariwisata alam dengan obyek hutan mangrove. Pengembangan sarana akomodasi pariwisata dapat dilakukan diluar kawasan hutan sedangkan hutan mangrove dapat dijadikan obyek atau etalase bagi pengunjung. Selain itu untuk kegiatan budidaya perikanan dapat menerapkan sistem silvofishery yang mana memadukan hutan mangrove dan tambak untuk dapat berintegrasi yang dapat mempertahankan keberadaan mangrove sesuai fungsinya

Hutan mangrove atau sering disebut hutan bakau merupakan ekosistem yang biasa tumbuh di perairan payau dan sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Umumnya, ekosistem mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol (akar napas/pneumatofor) dan cenderung tumbuh pada jenis tanah berlumpur, sehingga tidak mengherankan jika hutan mangrove ini banyak tumbuh di kawasan pesisir pantai.
Hutan mangrove tersebar di 123 negara yang memiliki iklim tropis dan sub tropis. Biasanya mangrove menyukai arus laut hangat sepanjang garis khatulistiwa, 20° ke utara dan selatan. Terkadang ditemukan hingga lintang 32° ke Utara dan Selatan. Indonesia termasuk wilayah yang memiliki hutan mangrove sangat luas, yaitu sekitar 25 % dari jumlah hutan mangrove di dunia (www.qureta.com). Besarnya jumlah tersebut tentu sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup karena hutan mangrove memiliki banyak fungsi, baik secara ekologis maupun ekonomi.
Fungsi secara ekologis, ekosistem mangrove dapat menghasilkan sejumlah besar detritus. Sebagian detritus ini dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh fauna makrobenthos pemakan detritus dan sebagian yang lain diuraikan secara bakterial menjadi unsur hara yang berperan dalam penyuburan perairan. Hutan mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi ombak laut yang dapat mengikis garis pantai. Tidak hanya itu, Hutan mangrove juga menjadi habitat yang nyaman bagi perkembangbiakan berbagai jenis burung dan satwa lainnya. Adapun secara ekonomi, ekosistem mangrove ini dapat memberikan kontribusi secara nyata bagi peningkatan pendapatan, baik bagi masyarakat, daerah, maupun Negara.
Namun sayangnya, kerusakan hutan mangrove saat ini menjadi masalah yang tidak kunjung usai. Data Food and Agriculture Organization (FAO) 2007 menunjukkan bahwa dalam tiga dekade terakhir, Indonesia kehilangan sekitar 40 persen luas hutan mangrove. Beberapa penyebab dikeluhkan, seperti pemanasan global, alih fungsi hutan menjadi tambak, permukiman, industri dan perkebunan. Selain itu, pembuangan limbah industri yang semakin tidak terkendali turut memperparah kerusakan karena mematikan ekosistem mangrove. Matinya ekosistem mangrove tentu menurunkan peran dan fungsi hutan itu sendiri. Padahal, fungsi utama hutan mangrove adalah sebagai green belt atau sabuk hijau bagi lingkungan pesisir pantai.
Ekosistem mangrove sebagai green belt memiliki cara kerja – melindungi garis pantai dari abrasi. Ekosistem mangrove meredam energi dari terjangan gelombang arus laut. Tanaman mangrove ini memantulkan, meneruskan dan menyerap energi gelombang yang datang, sehingga gelombang yang sampai ke sisi pantai hanya tersisa riak-riaknya saja. Tidak hanya itu, tanaman yang telah tumbuh kokoh bekerja melindungi kawasan pesisir pantai dari terpaan angin, bahkan badai maupun tsunami (http://infomanfaat.com).
Melihat pentingnya mangrove sebagai green belt ini, tidak dipungkiri membawa pengaruh besar bagi ekosistem laut maupun darat. Kita tidak dapat membayangkan jika ekosistem mangrove tersebut mengalami degradasi atau bahkan mengalami kegundulan. Gelombang, badai atau bahkan tsunami akan secara langsung menerjang garis pantai tanpa pemecah. Oleh karena itu, jangan biarkan mangrove yang selama ini menjadi green belt kawasan pesisir pantai musnah begitu saja. Mari, bentangkan green belt lebih luas lagi agar potensi abrasi semakin terminimalisasi. Salam lestari! (Idayatul/Lindungi Hutan)

Sumber :