Jumat, 17 Mei 2019

KULTUR TETRASELMIS UNTUK PAKAN BENIH UDANG

                                                    Hasil gambar untuk kultur tetraselmis sp

Usaha budidaya ikan pada dewasa ini nampak semakin giat dilaksanakan baik secara intensif maupun ekstensif. Usaha budidaya tersebut dilakukan di perairan tawar, payau, dan laut. Selain pengembangan skala usaha, ikan yang dibudidayakan semakin beragam jenisnya.
Salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan adalah ketersediaan pakan, dimana penyediaan pakan merupakan faktor penting di samping penyediaan induk. Pemberian pakan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup akan memperkecil persentase larva yang mati. Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang diramu dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki.
Sasaran utama untuk memenuhi tersedianya pakan adalah memproduksi pakan alami, karena pakan alami mudah didapatkan dan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup larva selama budidaya ikan, mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan untuk mangsanya serta memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Upaya untuk memperoleh persyaratan dan memenuhi pakan alami yang baik adalah dengan melakukan kultur fitoplankton.
Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Salah satu jenis pakan alami yang dapat digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan pakan budidaya yaitu fitoplankton jenis Tetraselmis chuii.Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh Tetraselmis chuii antara lain ketersediaannya secara alami di alam dan memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan atau udang untuk memangsanya. Penyediaan T. chuii secara terus menerus sangat sukar jika hanya mengumpulkan dari alam. Untuk itu produksi masal pakan alami ini harus dilakukan secara baik dengan tanpa mengesampingkan faktor pendukung seperti nutrien dan cahaya. Faktor pendukung berupa nutrien secara alami sudah terpenuhi oleh air laut berupa klorida, natrium, sulfat, magnesium, kalsium, kalium, potassium, bonat, bromide, asam borat, stronsium dan flor. Namun pertumbuhan mikroalga dengan kultur dapat mencapai optimum dengan mencampurkan air laut dengan nutrien yang tidak terkandung dalam air laut tersebut.
Tetraselmis chuii merupakan mikroalga yang dikenal dengan istilah flagellata berklorofil. Klasifikasi T. chuii sebagai berikut:
Filum : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
 Ordo : Volvocales
Sub ordo : Chlamidomonacea
Genus : Tetraselmis
Spesies : Tetraselmis chuii
T. chuii merupakan alga bersel tunggal, mempunyai empat buah flagel berwarna hijau (green flagella). Flagella pada T. chuii dapat bergerak secara lincah dan cepat seperti hewan bersel tunggal. Ukuran T. chuii berkisar antara tujuh hingga 12 mikron. Klorofil merupakan pigmen yang dominan sehingga alga ini berwarna hijau, dipenuhi plastida kloroplas Pigmen klorofil T. chuii terdiri dari dua macam yaitu karotin dan xantofil. Inti sel jelas dan berukuran kecil serta dinding sel mengandung bahan sellulosa dan pektosa .
T. chuii tumbuh dengan kondisi salinitas optimal antara 25 sampai dengan 35 ppm (25 x106 sampai dengan 35 x106 ppt ) (Fabregas et al. dalam Wibawa, 2009). Menurut Griffith et al. (dalam Wibawa, 2009) T. chuii masih dapat mentoleransi suhu antara 15-350C, sedangkan suhu optimal berkisar antara 23-250C. T. chuii memiliki toleransi salinitas 15 ppt, sedangkan kisaran suhunya 15-360C.. Bagan reproduksi T. chuii secara aseksual: dimulai dari sel vegetatif, kemudian membentuk 4 buah zoospora. Ketika keempat zoospora telah terbentuk maka akan berlanjut pada penentuan letak gamet. Setelah letak gamet ditentukan maka unit- unit gamet mengalami pembelahan. Kemudian unit- unit gamet tersebut berkembang menjadi zygospora. Sedangkan reproduksi secara seksual atau yang biasa dikenal dengan istilah isogami diawali dari terjadinya fusi antara gamet jantan dan gamet betina, kemudian kloroplas bersatu. Setelah kloroplas bersatu maka akan terbentuk zygot baru
T. chuii memiliki laju pertumbuhan dan adaptasi terhadap lingkungan yang relatif cepat. Pola pertumbuhannya juga memiliki dua puncak populasi yaitu pada hari ke enam dan pada hari ke sepuluh. T. chuii juga sensitif terhadap kepadatan sel yang tinggi, sehingga ketika dalam satu populasi sudah mencapai optimum maka penurunan jumlah kepadatan sel pada populasi tersebut akan cepat mengalami penurunan yang diakibatkan oleh beberapa hal yakni T. chuii cukup sensitif dengan bioproduknya sendiri atau kandungan nutriennya habis terserap. Sebab lain dari kematian T. chuii kemungkinan karena kultur T. chuii mudah terkontaminasi oleh alga lain. Dalam bidang budidaya dan perikanan T. chuii memiliki peran yang besar dalam hal penyediaan pakan untuk larva ikan maupun non ikan. Hal tersebut dikarenakan T. chuii memiliki nilai gizi yang baik .T. chuii mengandung protein cukup tinggi yaitu 48,42 % dan lemak 9,70 %. T. chuii dapat digunakan untuk memproduksi pakan rotifer (Brachionus plicatilis) secara masal, ataupun dapat juga dikonsumsi secara langsung oleh larva ikan hias, larva udang, larva teripang, dan cukup bagus digunakan sebagai pakan dalam budidaya biomassa Artemia. T. chuii mampu meningkatkan kandungan lemak tak jenuh pada konsumennya, misal dalam hal ini adalah kerang totok .
Selain dalam bidang budidaya dan perikanan T. chuii juga memiliki peranan terhadap manusia. Hal tersebut ditunjukkan dengan kemampuan T. chuii untuk dijadikan bio-indikator dalam penentuan kualitas suatu perairan . Sehingga dengan demikian manusia mampu lebih bijaksana dalam menjaga ataupun memanfaatkan perairan tersebut.
Laju Pertumbuhan Tetraselmis chuii
Laju pertumbuhan adalah pertambahan jumlah sel dalam periode tertentu. Pertumbuhan ditandai dengan 7 bertambah besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Hingga saat ini kepadatan sel digunakan secara luas untuk mengetahui pertumbuhan T. chuii dalam kultur pakan alami.
Ada empat fase pertumbuhan yaitu:
1. Fase Istirahat Sesaat setelah penambahan inokulum ke dalam media kultur, populasi tidak mengalami perubahan. Ukuran sel pada saat ini pada umumnya meningkat. Secara fisiologis T. chuii sangat aktif dan terjadi proses sintesis protein baru. Organisme mengalami metabolisme, tetapi belum terjadi pembelahan sel sehingga kepadatan sel belum meningkat. Umumnya terjadi pada hari pertama dan kedua kultur.
2. Fase Logaritmik atau Eksponensial Fase ini diawali dari pembelahan sel dengan laju pertumbuhan tetap. Pada kondisi kultur yang optimum, laju pertumbuhan pada fase ini mencapai maksimal. Umumnya terjadi pada hari ketiga hingga hari ketujuh.
3. Fase Penurunan kecepatan tumbuh Fase ini merupakan fase pada hari ketujuh yang menunjukkan kecepatan pertumbuhan sel yang mulai lambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan.
4. Fase Stasioner Pada fase ini, pertumbuhan mulai mengalami penurunan dibandingkan fase logaritmik. Pada fase ini laju reproduksi sama dengan laju kematian, dengan demikian penambahan dan pengurangan jumlah sel relatif sama atau seimbang sehingga kepadatan sel tetap. Fase ini terjadi pada hari ketujuh hingga hari ke sepuluh.
5. Fase Kematian Pada fase ini laju kematian lebih cepat dari pada laju reproduksi. Jumlah menurun secara geometrik. Penurunan kepadatan sel ditandai dengan perubahan kondisi optimum yang dipengaruhi oleh temperatur, cahaya, pH air, jumlah hara yang ada, dan beberapa kondisi lingkungan yang lain yang dimulai pada hari kesepuluh.
Sumber :
1.    Isnansetyo, A. dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kanisius. Yogjakarta
2.    Wibawa, M. A. 2009. Biologi Tetraselmis sp. [online] http:// zonaikan. wordpress. Com /2009/12/22/biologi-tetraselmis-sp/.

Kamis, 16 Mei 2019

LEBIH DEKAT DENGAN IKAN LEPU AYAM


                                 Hasil gambar untuk lepu ayam
Banyak ragam biota laut yang tinggal di terumbu karang, dan hampir semuanya indah dan memiliki beragam warna. Salah satunya adalah Lion Fish atau disebut juga ikan lepu ayam, Corak tubuhnya bergaris merah, marun, coklat, oranye, hitam dan putih. Bentuk siripnya berduri seperti kipas atau rumbai-rumbai. Panjang tubuhnya sekitar 10-40 cm. Ikan ini juga merupakan Ikan yang berumur panjang. Usia Lion Fish bisa mencapai 15-16 tahun. Ikan ini juga dikenal dengan nama Turkey Fish, Dragon Fish, atau Scorpion Fish.

Walaupun cantik, jangan sampai terpukau oleh kecantikannya sehingga berani menyentuh ikan ini. sirip dan durinya yang indah sangat beracun bila menusuk kulit. Sebuah sengatan dari lionfish yang sangat menyakitkan bagi manusia dan dapat menyebabkan pening, demam, mual, muntah, kesulitan bernafas, kejang, walaupun tidak menyebabkan kematian. Area yang terkena bisa berwarna kemerahan dan terasa seperti ditusuk-tusuk.  Para penyelam jelas harus mewaspadai ikan ini. Biasanya lionfish berada di kedalaman laut sekitar 20-50m
Racun yang di hasilkan ikan ini merupakan racun heat-labile. Ini berarti racun ikan ini akan rusak bila terkena panas. Jadi jika manusia terkena racun ini, cara jitunya tentu saja dengan merendam bagian yang terkena dengan air hangat (suhunya kira-kira 45 derajat C), jangan terlalu panas karena kulit dapat melepuh. Lama perendaman kira-kira 30-90 menit. Bila masih terasa sakit maka perendaman ini dapat diulang. Bila sakit sekali, dokter dapat memberikan obat bius lokal. Patil ikan yang mungkin masih tertinggal harus dicari dan dikeluarkan. Dianjurkan juga untuk diberikan suntikan tetanus (luka sepele juga bisa kena tetanus). Bila luka meluas, bisa diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi kulit.
Beda dengan sebagian ikan lainnya, Lionfish bukanlah ikan yang hidup berkelompok, melainkan ikan penyendiri. Tetapi jika bertemu pasangannya, lionfish betina akan melepaskan 2000-15.000 telur untuk dibuahi si jantan. Setelah itu, pasangan ini  bersembunyi agar telur-telurnya bisa mengapung di lautan tanpa dimakan ikan lain. Hanya butuh waktu dua hari untuk telurnya menetas menjadi seekor ikan lionfish.

Meskipun memiliki warna yang cantik dan bentuk yang unik, ikan hias laut ini ternyata mempunyai bisa yang dapat menyebabkan kematian. Penyelam pun berusaha untuk menghindar karena takut tersentuh duri pada siripnya.
Ikan ini akrab disebut ikan lapu-lapu atau ikan lepu ayam (Pterois volitans). Ia berasal dari perairan tropis Samudera Hindia dan Pasifik. Ikan lepu dikenal dengan beberapa penamaan antara lain Turkey Fish, Dragon Fish, Scorpion Fish, Lionfish, Lionfish Scorpion, Ornate Butterfly-cod, Firefish, Red Lionfish, Volitan Lion, dan Zebrafish. Usia ikan ini bisa mencapai 15-16 tahun.
Berdasarkan sumber kajian ilmiah, ikan lepu hidup di daerah terumbu karang dengan kedalaman laut 20 – 50 meter. Ikan ini merupakan predator yang memakan Crustacea, Cephalopoda, dan ikan-ikan kecil yang hidup di karang menggunakan strategi menyamar kemudian menyergap mangsa yang mendekat. Mulut ikan lepu biasa untuk menghisap calon makanannya dengan kecepatan gerakan yang hampir tidak terlihat, yaitu 15 ms (milisekon).
Secara morfologinya, ikan lepu memiliki fisik yang unik. Satwa laut ini memiliki kepala berduri yang besar, duri berbisa yang berada pada punggung dan siripnya, dan kantung bisa. Bentuk siripnya berduri membentuk seperti kipas. Panjang tubuhnya sekitar 10 – 40 cm. Selain itu, ikan lepu memiliki warna yang identik yaitu bergaris merah, marun, coklat, oranye, hitam dan putih.
Ikan lepu mengeluarkan suara yang berasal dari gosokan dan gerakan rangka tubuh untuk menarik perhatian pasangannya. Menurut Stein (2006), ikan membuat suara untuk beberapa alasan yang berbeda, antara lain untuk tetap berhubungan dengan kawanan, memperingatkan bahaya, berkomunikasi dengan pasangan, menarik perhatian pasangan, menakut-nakuti penyusup agar menjauh dari telur, dan bahkan mungkin untuk echo location bagi beberapa spesies laut dalam. Verrapan, et al. (2009) mengatakan lebih dari 800 spesies ikan diketahui mengeluarkan suara. Pada umumnya, suara yang dihasilkan diproduksi pada saat makan atau berenang.

Ikan lapu-lapu atau ikan lepu ayam (Pterois volitans). Foto: wikimedia
Ikan Lepu cenderung tidak agresif, namun mereka memiliki tingkah laku pertahanan. Apabila mereka merasa terancam, mereka akan segera menegakkan sirip dorsalnya atau hanya bersembunyi dan diam.
Bisa yang ada pada ikan lepu merupakan racun heat-labile yang berarti racun ini akan rusak atau mengalami denaturasi bila terkena panas. Bila bisa sudah masuk ke dalam tubuh manusia, gejala yang timbul adalah hipertensi, takikardia (kenaikan denyut jantung), dan mati rasa. Dalam waktu tiga jam setelah terkena bisa, dapat menyebabkan kelumpuhan dan dalam beberapa kasus menyebabkan kematian.
Segera lakukan pertolongan pertama dengan merendam atau membilas bagian yang terkena dengan air hangat (sekitar 40 – 60 derajat Celcius) selama lebih kurang 30 menit. Bila masih terasa sakit segera hubungi dokter terdekat untuk dilakukan penanganan. Patil ikan yang mungkin masih tertinggal harus dicari dan dikeluarkan. Dianjurkan juga untuk diberikan suntikan tetanus (luka sepele juga bisa mengakibatkan tetanus). Bila luka meluas, bisa diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi kulit.
Ikan lepu merupakan ikan yang beraktivitas pada malam hari (nokturnal). Di siang hari, mereka lebih banyak bersembunyi di tempat terlindung, misalnya di lubang terumbu karang. Saat ini pemangsa ikan lepu mulai berkurang karena banyak faktor, salah satunya akibat eksploitasi manusia.
 Ikan Lepu Ayam memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut :

Biota > Animalia (Kingdom) > Chordata (Filum) > Actinopterygii (Kelas) > Scorpaeniformes (Ordo) > Scorpaenidae (Famili) > Pterois (Genus) > P. volitans (Spesies)

     Ikan Lepu Ayam, secara alami dapat dijumpai di perairan tropis dengan terumbu karang hingga kedalaman 50 meter. Beberapa temuan juga menunjukkan bahwa ikan ini juga ditemukan di pantai berpasir, estuari, dan perairan pelabuhan. Habitat asli ikan ini menyebar di Samudera Pasifik Barat, mulai dari Indonesia, Australia Utara, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Pasifik (Micronesia, Polynesia, dll), hingga ke Jepang dan Selandia Baru. Namun, di pertengahan 1990 ikan ini juga diintroduksikan ke perairan Timur Amerika, tepatnya di Florida, dan sekarang penyebarannya meluas hingga ke Karibia termasuk Meksiko, Kuba, Puerto Rico, Bahama, dll. Namun timbul permasalahan setelah ikan ini diintroduksikan ke habitat barunya. Ikan Lepu Ayam ternyata menjadi spesies invasif di habitat barunya karena pertumbuhannya yang tidak terkontrol. Kurangnya predator alami di habitat barunya menjadi faktor ikan ini dapat berkembang biak dengan sangat pesat, sehingga mengancam kehidupan spesies asli atau endemik daerah tersebut.
     Ikan Lepu Ayam hidup sebagai pemangsa di habitatnya, ikan ini memangsa hewan yang lebih kecil seperti udang-udangan, kepiting, dan ikan. Ikan ini cenderung aktif memangsa di malam hari dan termasuk ikan yang rakus. Hanya sedikit yang diketahui tentang predator dari ikan ini, karena duri yang dimilikinya membuat ikan ini tidak dijadikan mangsa oleh ikan yang lebih besar. Duri ikan ini mengandung racun neurotoxin yang dapat mengganggu sistem saraf dan juga mengganggu kerja sistem kardiovaskuler. meskipun racun ikan ini tidak mematikan bagi manusia, namun racun ikan ini konon memberikan rasa sakit disekitar daerah yang terkena sengatan dan mengakibatkan korbannya merasa mual dan sesak nafas.
     Ikan ini memiliki pola reproduksi yang unik, dimana pada saat malam hari ikan ini akan beramai - ramai 'menari' di bawah air dan hewan betina akan mengeluarkan lendir yang berisi ribuan telur yang akan dibuahi oleh hewan jantan. Lendir yang mengikat telur ikan ini akan larut di dalam air beberapa hari kemudian, sehingga telur yang sudah dibuahi akan melayang - layang di perairan. Telur tersebut kemudian berkembang menjadi larva kecil yang nantinya akan berkembang menjadi ikan dewasa. Ikan Lepu Ayam sangat populer di kalanagan hobiis ikan hias sebagai ikan yang dapat mempercantik akuarium air laut mereka. Populasi ikan ini yang meledak di perairan timur Ameria juga menjadikan ikan ini seringkali diburu untuk dijual sebagai ikan hias. 

 Sumber :
https://savecoralindonesia.wordpress.com/tag/ikan-lepu/



Senin, 13 Mei 2019

TEKNIK BUDIDAYA IKAN NILA SISTEM BIOFLOK


                    Hasil gambar untuk sistem bioflok untuk pemula dalam budidaya ikan nila      Hasil gambar untuk sistem bioflok untuk pemula dalam budidaya ikan nila
Teknologi bioflok didasarkan pada pengoperasian kolam dengan menggunakan pertukaran air minimal, perkembangan populasi mikroba padat dan mengelola populasi mikroba melalui penyesuaian rasio C/N sehingga mengendalikan konsentrasi nitrogen anorganik di dalam air. Bakteri membentuk bioflok, menghasilkan protein mikroba dan memungkinkan untuk mendaur ulang protein pakan yang tidak terpakai. Sistem Bioflok banyak digunakan untuk produksi udang di seluruh dunia. Ikan nila sangat cocok dibudidayakan dengan sistem Bioflok. Nila adalah ikan herbivora, yang pada dasarnya adalah pemakan penyaring yang disesuaikan dengan panen bioflok di dalam air, dapat tumbuh dan berkembang dalam sistem padat dan secara keseluruhan merupakan ikan yang kuat dan stabil. Menggunakan sistem Bioflok untuk produksi nila adalah pilihan yang menjanjikan.

Sistem bioflok memungkinkan untuk mengintensifkan produksi nila. Ikan ini mudah beradaptasi dengan kondisi di sistem bioflok, tumbuh dengan baik, memanen bioflok dan memanfaatkannya sebagai sumber pakan. Daur ulang pakan dan minimalisasi pertukaran air merupakan kontribusi penting bagi perekonomian produksi nila.

Kelebihan dari sistem Bioflok pada budidaya nila, terutama dibandingkan dengan budidaya udang, adalah biomassa yang sangat tinggi. Biomassa nila bisa mencapai 20-30 kg/m3 (200-300 ton/ha), dibandingkan dengan biomassa udang sekitar 2 kg/m3 (20 ton/ha) di kolam yang dikontrol dengan baik. Perbedaan ini penting untuk sistem pertukaran air minimal. Pelepasan Total Amonia Nitrogen (TAN) harian, jika tidak diobati dan tertinggal di air dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan kematian ikan. Dua proses mediasi mikroba dalam sistem Bioflok dalam mengendalikan konsentrasi TAN. Satu proses mikroba yang berlangsung adalah nitrifikasi yang mengubah amonia beracun dan nitrit menjadi nitrat. Proses lain adalah asimilasi TAN oleh bakteri heterotrofikmenjadi protein mikroba.

Dalam sistem dengan kadar karbon yang tinggi dibandingkan dengan nitrogen (C/N ratio> 15), bakteri memanfaatkan karbon sebagai bahan sel baru, namun, karena sel mikroba terbuat dari protein, mereka membutuhkan nitrogen dan mengambil amonia dari air. Penting untuk dicatat bahwa kedua proses dapat terjadi hanya jika komunitas mikroba yang tepat hadir dalam kadar yang cukup dalam air. Komunitas heterotrofikberkembang dengan cepat setelah terbentuknya bahan organik di dalam air. Komunitas nitrifikasi berkembang perlahan dan dibutuhkan sekitar 4 minggu sebelum mencapai kapasitasnya.

Jumlah protein yang tersimpan dalam Bioflok sangat signifikan. Selain itu, Bioflok dipanen dan dimanfaatkan oleh ikan nila secara terus menerus sepanjang hari. Mengamati perilaku ikan nila di kolam Bioflok dengan di kolam konvensional, dapat dilihat bahwa ikan nila di kolam konvensional sangat lapar dan saling berebut mendapatkan pelet pakan yang diberikan dua kali sehari. Sementara di kolam Bioflok nila makan dengan tenang, menunjukkan bahwa mereka tidak kelaparan sebelum diberi makan. Kemudian pakan semi kontinu melalui panen bioflok akan membantu nila yang lebih kecil yang hampir tidak dapat bersaing dengan nila yang lebih besar di kolam konvensional, dan dengan demikian keseragaman yang lebih tinggi terjadi di kolam Bioflok.

Nila mengkonsumsi sekitar 1,5 g protein dari flok per kg ikan, yang jumlahnya sekitar 25 persen dari kebutuhan proteinnya. Studi penelitian mengenai sistem flok telah menunjukkan pakan rendah protein (24 persen) memberikan pertumbuhan nila yang sama dibandingkan dengan 35 persen pakan protein, yang menunjukkan kontribusi protein pada bioflok yang dikonsumsi oleh ikan. Pakan biasanya menyumbang 40-50 persen atau lebih dari biaya variabel dalam sistem budidaya intensif.

Pemberian pakan merupakan sarana kontrol yang penting. Pemberian pakan yang tepat memungkinkan ikan untuk mendapatkan rasio C/N yang tepat (> 15) yang akan mempromosikan pengambilan amonium dari air. Selain itu, strategi pakan yang tepat diperlukan untuk memanfaatkan protein mikroba daur ulang, untuk mengurangi biaya dan meminimal kotoran.

Konsumsi oksigen pada budidaya nila sistem Bioflok agak tinggi, baik karena respirasi dari biomassa ikan padat maupun karena respirasi komunitas mikroba yang memetabolisme residu organik. Kisaran aerasi yang dibutuhkan adalah 10-20 hp untuk kolam 1000m2. Kecepatan aerasi yang tepat yang diperlukan untuk kolam tertentu dalam kondisi tertentu harus disesuaikan mengikuti penentuan oksigen harian di kolam, biasanya menetapkan tingkat minimal 4 mgO2/l. Kita harus menyesuaikan penggunaan aerator dengan ukuran biomassa ikan dan kolam. Biasanya, aerasi yang lebih rendah dapat diterapkan pada awal siklus saat biomassa ikan rendah, namun disarankan untuk memanfaatkan kapasitas kolam dengan menebar sejumlah besar bibit dan mempertahankan biomassa yang relatif konstan dengan transfer yang sesuai.

Penempatan aerator yang tepat sangat penting. Kebanyakan pengaturan aerasi kolam dilakukan untuk mendapatkan gerakan air melingkar sehingga bisa memusatkan partikel padat sedekat mungkin dengan pusat pengeringan. Untuk mencegah sedimentasi cepat partikel di dekat pusat pengeringan, disarankan untuk menempatkan aerator untuk mensensitas ulang partikel yang mengendap  di tengah.

Peran penting sistem aerasi adalah menggerakkan dan mencampur air untuk mencegah pembentukan tumpukan lumpur di lokasi yang tidak terkuras dengan baik. Jika menemukan akumulasi seperti itu, penempatan aerator harus disesuaikan sesegera mungkin.

Budidaya nila sistem Bioflok sebaiknya menggunakan kolam kecil (100 -1000m2), karena sulitnya pencampuran tubuh air yang sempurna. Sebagian besar kolam berbentuk bulat atau persegi dengan sudut membulat, lantai lereng kolam menuju pusat untuk memudahkan konsentrasi lumpur di pusat. Saluran pembuangan utama terletak di tengahnya, dioperasikan menggunakan pipa berdiri atau katup. Saluran pembuangan dibuka biasanya dua kali sehari, membiarkan lumpur gelap mengering, sampai titik saat air kolam bening keluar.

Sistem Bioflok mudah dioperasikan, namun menuntut pemantauan yang cermat dan respons yang cepat terhadap cacat. Harus diingat bahwa kolam dengan kepadatan tinggi dan kesalahan yang tidak ditanggapi, dapat menjadi kritis. Pemantauan tentu dibutuhkan. 

Yang sangat penting adalah parameter berikut:
·         Oksigen, jika oksigen tinggi, bisa mengurangi jumlah aerator yang diaplikasikan untuk menghemat listrik. Namun, jika O2 kurang dari 4 mg / l, tambahkan aerator.
·         TAN (Total Amonia Nitrogen). Konsentrasi TAN rendah (<0,5 mg/l) berarti sistem ini berfungsi dengan baik. Anda bisa mempertimbangkan untuk menurunkan penambahan karbon. TAN meningkat dengan penambahan karbon.
·         NO2. Nitrit dapat berdampak negatif pada nila, namun pengaruhnya terbatas pada air asin. Peningkatan NO2 mungkin merupakan indikasi pembentukan anaerobik. Dalam kasus peningkatan nitrit dengan adanya tumpukan lumpur di kolam, harus merubah penempatan aerasi.
·         Penentuan volume volume flok (FV) menggunakan kerucut Imhoff mudah dan murah. FV harus berada dalam kisaran 5-50 ml / l. Jika terlalu rendah tambahkan karbohidrat dan dalam kasus itu lebih tinggi dari 50 meningkatkan pembuangan lumpur.
Meski nila mampu bertahan di air dengan kandungan padatan sangat tinggi ada batasan biologis dan ekonomis terhadap konsentrasi bioflok dalam air. Seiring pertumbuhan ikan dan lebih banyak pakan ditambahkan ke sistem, kenaikan muatan padat meningkat, menciptakan flok yang lebih banyak. Padat kelebihan beban dalam sistem bioflok telah dikaitkan dengan kematian nila dan pertumbuhannya menurun karena asupan pakan yang lebih rendah. Dalam sistem kepadatan tinggi, nila tidak bisa menghasilkan bioflok cukup cepat untuk mencegah penumpukan lumpur di dasar kolam, yang membuat buruknya kualitas air. Oleh karena itu, filtrasi padatan diperlukan untuk secara teratur membuang lumpur sebelum menumpuk. Padatan yang dikeluarkan dari kolam kaya akan nitrogen dan fosfor dan dapat digunakan sebagai pupuk untuk pertanian tradisional.

Selain batasan biologis, aerasi dibutuhkan untuk membuat ikan tetap tumbuh. Hal ini menyebabkan biaya listrik lebih tinggi untuk aerasi dan kebutuhan untuk memasang lebih banyak perangkat aerasi. Pertumbuhan terbaik nila, pada tingkat oksigen terlarut medium sekitar 3,75 mg/L. Hingga 86 persen kebutuhan oksigen telah dikaitkan dengan komunitas mikroba bioflok dalam sistem budidaya.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa timbunan bioflok dapat dipanen dari sistem budidaya, dikeringkan dan ditambahkan sebagai bahan pelet, menggantikan 2/3 tepung ikan dan 100 persen tanaman. Namun, kelayakan ekonomi penggunaan flok sebagai bahan pakan kering tetap belum ditentukan. Meningkatnya harga tepung ikan dapat membuat bioflok kering sebagai alternatif ekonomi yang layak.
Ada sekitar 3000 ekor ikan nila yang ditebar di kolam yang hanya berukuran 2 x 3 meter setinggi 80 cm. Begitu padatnya jadi tak ada ruang yang cukup bagi ikan untuk berenang bebas.

Saat ikan sudah cukup besar maka ikan-ikan ini harus dipisah sehingga hanya tersisa sekitar 800-an. Kepadatan itu adalah kesengajaan. Sebuah teknik pembiakan ikan yang disebut bioflok, teknik pembiakan ikan dengan cara menumbuhkan bakteri di dalam udara.
Bio berarti hidup, flok itu gumpalan. Jadi bioflok itu adalah gumpalan hidup. Jadi bakteri-bakteri itu tumbuh menjadi gumpalan yang akhirnya tumbuh menjadi makanan ikan. Dengan metode ini, sisa-sisa pakan atau kotoran ikan akan diolah oleh bakteri tersebut lalu jadi makanan lagi. Hanya memang tetap diberi pakan. Keuntungan sistem ini dibandingkan metode konvensional yang menggunakan air yang sedikit karena ikan di kolam ini memiliki persyaratan yang khusus.

Keunggulan Budidaya Nila Sistem Bioflok
Budidaya ikan nila sistem bioflok memiliki sejumlah keunggulan, diantaranya:
Pertama, meningkatkan kelangsungan hidup (survival rate/SR) hingga lebih dari 90 persen dan tanpa pergantian air. Air bekas budidaya juga tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan.
Kedua, Feed Conversion Ratio (FCR) atau perbandingan antara berat pakan dengan berat total (biomass) ikan dalam satu siklus periode budidaya mencapai 1,03. Artinya 1,03 kg pakan menghasilkan 1 kilogram ikan Nila. Jika dibandingkan dengan pemeliharaan di kolam biasa FCRnya mencapai angka 1,5.
Ketiga, padat tebarnya pun mampu mencapai 100-150 ekor / m3 atau mencapai 10-15 kali lipat dibandingkan dengan pemeliharaan di kolam biasa yang hanya 10 ekor / m3.
Keempat, aplikasi sistem bioflok pada pembesaran ikan nila juga telah meningkatkan produktivitas hingga 25 - 30 kg / m3 atau 12-15 kali lipat jika dibandingkan dengan kolam biasa sebesar 2 kg / m3.
Kelima, waktu pemeliharaan lebih singkat, dengan benih awal yang ditebar tinggi 8 - 10 cm, selama 3 bulan pemeliharaan, benih ini mampu tumbuh hingga ukuran 250 - 300 gram / ekor untuk mencapai ukuran yang sama di kolam biasa membutuhkan waktu 4-6 bulan .
Keenam, Ikan Nila dari hasil budidaya sistem bioflok lebih optimal sebagai hasil pencernaan makanan yang optimal. Komposisi daging atau karkasnya lebih banyak, juga kandungan air dalam dagingnya lebih sedikit.
Secara bisnis, budidaya ikan Nila juga sangat menguntungkan. Harganya cukup baik dan stabil di pasaran yaitu Rp. 22 ribu per kg. 
Dalam pemeliharaan ikan sistem bioflok yang perlu dijaga adalah cadangan oksigen yang larut dalam udara, karena oksigen disamping diperlukan ikan untuk pertumbuhan juga dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan kotoran atau sisa pengeluaran di udara. Pada ikan nila, kadar oksigen terlarut (DO) di dalam media pemulihan minimal 3 mg / L. (234)
Sumber :
2.    http://www.minapedia.online/2018/05/budidaya-ikan-nila-sistem-bioflok.htm

BUDIDAYA IKAN NILA ITU MUDAH


                                    Hasil gambar untuk BUDIDAYA IKAN NILA 
Budidaya ikan nila tidaklah sulit. Ikan nila masih satu kerabat dengan ikan mujair. Kedua ikan ini mempunyai kemiripan sifat. Mudah berkembang biak dan mempunyai kemampuan adaptasi yang baik.
Di alam bebas, ikan nila banyak ditemukan di perairan air tawar seperti sungai, danau, waduk dan rawa. Suhu optimal bagi pertumbuhan ikan nila berkisar 25-30oC dengan pH air 7-8.
Ikan nila termasuk hewan pemakan segala atau omnivora. Makanan alaminya plankton, plankton, tumbuhan air dan berbagai hewan air lainnya. Pakan buatan untuk budidaya ikan nila sebaiknya berkadar protein sekitar 25%.  Biaya pakan untuk budidaya ikan nila relatif lebih murah. Tidak seperti budidaya ikan mas atau ikan leleyang membutuhkan pakan dengan kadar protein tinggi,  sekitar 30-45%.
Untuk memulai budidaya ikan nila ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan, yakni pemilihan benih, persiapan kolam, pemberian pakan, hingga penanganan penyakit.
Memilih benih ikan nila
Pemilihan benih merupakan faktor penting yang menentukan tingkat keberhasilan budidaya ikan nila. Untuk hasil maksimal sebaiknya gunakan benih ikan berjenis kelamin jantan. Karena pertumbuhan ikan nila jantan 40% lebih cepat dari pada ikan nila betina.
Budidaya ikan nila secara monosex (berkelamin semua) lebih produktif dibanding campuran. Karena ikan nila mempunyai sifat gampang memijah (melakukan perkawinan). Sehingga bila budidaya dilakukan secara campuran, energi ikan akan habis untuk memijah dan pertumbuhan bobot ikan sedikit terhambat.
Saat ini banyak yang menyediakan bibit ikan nila monosex. Bila sulit mendapatkannya, bibit ikan nila monosex bisa dibuat sendiri. Caranya bisa dilihat dalam artikel budidaya pembenihan ikan nila.
Persiapan kolam budidaya
Budidaya ikan nila bisa menggunakan berbagai jenis kolam, mulai dari kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring terapung hingga tambak air payau. Dari sekian jenis kolam tersebut, kolam tanah paling banyak digunakan karena cara membuatnya cukup mudah dan biaya konstruksinya murah. Silahkan lihat cara membuat kolam tanah.
Keunggulan lain kolam tanah adalah bisa menjadi tempat tumbuh berbagai tumbuhan dan hewan yang bermanfaat sebagai pakan alami bagi ikan. Sehingga bisa mengurangi biaya pembelian pakan buatan atau pelet.
Untuk memulai budidaya ikan nila di kolam tanah, perlu langkah-langkah persiapan pengolahan tanah. Mulai dari penjemuran, pembajakan tanah, pengapuran, pemupukan hingga pengairan. Berikut langkah-langkahnya:
§  Langkah pertama adalah pengeringan dasar kolam. Kolam dikeringkan dengan cara dijemur. Penjemuran biasanya berlangsung selama 3-7 hari, tergantung kondisi cuaca. Sebagai patokan, penjemuran sudah cukup bila permukaan tanah terlihat retak-retak, namun tidak sampai membatu. Bila diinjak masih meninggalkan jejak kaki sedalam 1-2 cm.
§  Selanjutnya, permukaan tanah dibajak atau dicangkul sedalam kurang lebih 10 cm. Sampah, kerikil dan kotoran lainnya dibersihkan dari dasar kolam. Bersihkan juga lumpur hitam yang berbau busuk, biasanya berasal dari sisa pakan yang tidak habis.
§  Kolam yang telah dipakai biasanya memiliki tingkat keasaman tinggi (pH rendah), kurang dari 6. Padahal kondisi pH optimal untuk budidaya ikan nila ada pada kisaran 7-8. Untuk menetralkannya lakukan pengapuran dengan dolomit atau kapur pertanian. Dosis pengapuran disesuaikan dengan keasaman tanah. Untuk pH tanah 6 sebanyak 500 kg/ha, untuk pH tanah 5-6 sebanyak 500-1500 kg/ha, untuk pH tanah 4-5 sebanyak 1-3 ton/ha. Kapur diaduk secara merata. Usahakan agar kapur bisa masuk ke dalam permukaan tanah sedalam 10 cm. Kemudian diamkan selama 2-3 hari.
§  Setelah itu lakukan pemupukan. Gunakan pupuk organik  sebagai pupuk dasar. Jenisnya bisa pupuk kompos atau pupuk kandang. Pemberian pupuk organik berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah. Dosisnya sebanyak 1-2 ton per hektar. Pupuk ditebar merata di dasar kolam. Biarkan selama 1-2 minggu. Setelah itu, bila dipandang perlu bisa ditambahkan pupuk kimia berupa urea 50-70 kg/ha dan TSP 25-30 kg/ha, diamkan 1-2 hari. Tujuan pemupukan untuk memberikan nutrisi bagi hewan dan tumbuhan renik yang ada di lingkungan kolam. Sehingga hewan atau tumbuhan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pakan alami ikan.
§  Langkah selanjutnya, kolam digenangi dengan air. Pengairan dilakukan secara bertahap. Pertama, alirkan air ke dalam kolam sedalam 10-20 cm. Diamkan selama 3-5 hari. Biarkan sinar matahari menembus dasar kolam dengan sempurna, untuk memberikan kesempatan pada ganggag atau organisme air lainnya tumbuh. Setelah itu isi kolam hingga ketinggian air mencapai 60-75 cm.
Cara pengolahan kolam tanah secara lebih mendetail bisa dilihat di persiapan kolam tanah untuk budidaya ikan.
Penebaran benih ikan nila
Kolam yang telah terisi air sedalam 60-75 cm siap untuk ditebari benih ikan nila. Padat tebar kolam tanah untuk budidaya ikan nila sebanyak 15-30 ekor/m2. Dengan asumsi, ukuran benih sebesar 10-20 gram/ekor dan akan dipanen dengan ukuran 300 gram/ekor.
Sebelum benih ditebar, hendaknya melewati tahap adaptasi terlebih dahulu. Gunanya agar benih ikan terbiasa dengan kondisi kolam, sehingga resiko kematian benih bisa ditekan. Caranya, masukkan wadah yang berisi benih ikan nila ke dalam air kolam. Biarkan selama beberapa jam. Kemudian miringkan atau buka wadah tersebut. Biarkan ikan keluar dan lepas dengan sendirinya.
Pemeliharaan budidaya ikan nila
Setelah semua persiapan selesai dilakukan dan benih sudah ditebarkan ke dalam kolam, langkah selanjutnya adalah merawat ikan hingga usia panen. Tiga hal yang paling penting dalam pemeliharaan budidaya ikan nila adalah pengelolaan air, pemberian pakan dan pengendalian hama penyakit.
a. Pengelolaan air
Agar pertumbuhan budidaya ikan nila maksimal, pantau kualitas air kolam. Parameter penentu kualitas air adalah kandungan oksigen dan pH air. Bisa juga dilakukan pemantauan kadar CO2, NH3 dan H2S bila memungkinkan.
Bila kandungan oksigen dalam kolam menurun, perderas sirkulasi air dengan memperbesar aliran debit air. Bila kolam sudah banyak mengandung NH3 dan H2S yang ditandai dengan bau busuk, segera lakukan penggantian air. Caranya dengan mengeluarkan air kotor sebesar ⅓ nya, kemudian menambahkan air baru. Dalam keadaan normal,pada kolam seluas 100 m2 atur debit air sebesar 1 liter/detik.
b. Pemberian pakan
Pengelolaan pakan sangat penting dalam budidaya ikan nila. Biaya pakan merupakan komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan nila. Berikan pakan berupa pelet dengan kadar protein 20-30%.
Ikan nila membutuhkan pakan sebanyak 3% dari bobot tubuhnya setiap hari. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi dan sore hari. Setiap dua minggu sekali, ambil sampel ikan nila secara acak kemudian timbang bobotnya. Lalu sesuaikan jumlah pakan yang harus diberikan.
Perhitungan dosis pakan budidaya ikan nila:
Dalam satu kolam terdapat 1500 ekor ikan nila berukuran 10-20 gram/ekor.
Rata-rata bobot ikan → (10+20)/2 = 15 gram/ekor.
Perhitungan pakannya → 15 x 1500 x 3% = 675 gram = 6,75 kg per hari
Cek bobot ikan setiap dua minggu untuk menyesuaikan jumlah pakan.
c. Pengendalian hama dan penyakit
Seperti telah disebutkan sebelumnya, ikan nila merupakan ikan yang tahan banting. Pada situasi normal, penyakit ikan nila tidak banyak mengkhawatirkan. Namun bila budidaya ikan nila sudah dilakukan secara intensif dan massal, resiko serangan penyakit harus diwaspadai.
Penyebaran penyakit ikan sangat cepat, khususnya untuk jenis penyakit infeksi yang menular. Media penularan biasanya melewati air. Jadi bisa menjangkau satu atau lebih kawasan kolam. Untuk penjelasan lebih jauh silahkan baca hama dan penyakit ikan nila.
Pemanenan ikan nila
Waktu yang diperlukan untuk budidaya ikan nila mulai dari penebaran benih hingga panen mengacu pada kebutuhan pasar. Ukuran ikan nila untuk pasar domestik berkisar 300-500 gram/ekor. Untuk memelihara ikan nila dari ukuran 10-20 gram hingga menjadi 300-500 gram dibutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan.

Sumber :

2.    https://www.pondokikan.com

KONSERVASI PENYU


                                   Hasil gambar untuk persebaran penyu di indonesia

Keanekaragaman habitat perairan taut Indonesia (yang memiliki pesisir sepanjang 81.000 km, terdiri dari 17.508 pulau) telah menjadi tempat hidup 6 dari 7 spesies penyu yang ada di dunia. Dari ke enam species tersebut, 5 di antaranya adalah penghuni tetap, membentuk kelompok populasi tersendiri di perairan kita yaitu penyu hijau/ green turtle, Chelonia mydas, penyu sisik/hawksbill turtle, Eretmochelys imbricata, penyu belimbing/leatherback turtle, Dermochelys cariacea, penyu lekang/olive ridley turtle, Lepidochelys olivacea, dan penyu tempayan/loggerhead turtle, Caretta caretta. Sedangkan penyu pipih/flatback turtle, Natator depressa diduga berada di perairan Indonesia, terutama sekitar perairan Timor dan Laut Arafuru. Penyu Pipih melakukan aktivitas bertelur di pantai-pantai eksklusif di Australia Barat.
Aktivitas pemanfaatan penyu laut di Indonesia merupakan sejarah yang cukup panjang. Sejak jaman dulu penyu telah diburu oleh masyarakat nelayan untuk dimanfaatkan daging dan telurnya. Aktivitas tersebut dikatakan subsistem dalam upaya mendapat sumber protein altematif oleh masyarakat pesisir.
Peningkatan intensitas aktifitas perburuan, pembantaian dan pemanfaatan penyu berlangsung sejalan dengan pengaruh teknologi baru. Aktivitas tersebut mulai bersifat komersial setelah Perang Dunia II berakhir, bersamaan dengan pengenalan masyarakat nelayan pada perahu motor dan teknik-teknik baru dalam penangkapan ikan. Dampak aktivitas tersebut semakin meningkat bersamaan dengan kemajuan teknologi, peningkatan jumlah penduduk, serta peningkatan ragam dan mutu kebutuhan. Hal ini terjadi karena terdorong oleh usaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kemudian berkembang menjadi suatu kegiatan usaha yang bersifat komersial.
Pemanfaatan penyu secara komersial dapat dikatakan bersifat menular di kalangan nelayan di penjuru kepulauan Indonesia. Penting untuk ditekankan bahwa semua spesies penyu di Indonesia berada dalam kondisi tereksploitasi berat, dengan derajat berbeda-beda pada siklus hidup tiap-tiap spesies. Meskipun telah berstatus dilindungi, pemanfaatan daging penyu hijau untuk konsumsi restoran maupun penduduk masih terus berlangsung.
Karapas penyu dan sisiknya atau untuk diawetkan (stuffed) serta pengambilan telur masih umum terjadi. Sementara itu karapase dan sisiknya diambil untuk offsetan (stuffed).

A.  Deskripsi Penyu
Penyu adalah kura-kura laut yang ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.
Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.
Penyu merupakan salah satu hewan purba yang masih hidup sampai sekarang. Ilmuwan memprediksi, penyu seusia dengan dinosaurus, dan telah ada sejak zaman Jura (145 – 208 juta tahun yang lalu).
Penyu adalah satwa migran, seringkali bermigrasi dalam jarak ribuan kilometer antara daerah tempat makan dan tempat bertelur. Penyu menghabiskan waktunya di laut tapi induknya akan menuju ke daratan ketika waktunya bertelur. Induk penyu bertelur dalam siklus 2-4 tahun sekali, yang akan datang ke pantai 4-7 kali untuk meletakan ratusan butir telurnya di dalam pasir yang digali. Untuk pengamatan penyu bertelur ada aturannya (panduan pengamatan penyu).

B.  Klasifikasi dan Identifikasi Penyu
Di dunia ada 7 jenis penyu dan 6 diantaranya terdapat di Indonesia. Jenis penyu yang ada di Indonesia adalah Penyu hijau (Chelonia mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu pipih (Natator depressus) dan Penyu tempayan (Caretta caretta). Penyu belimbing adalah penyu yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 - 900 kilogram. Sedangkan penyu terkecil adalah penyu lekang, dengan bobot sekitar 50 kilogram. 
    
Penangkapan dan Perdagangan Penyu Secara tidak sah (ilegal)
Adanya kegiatan penangkapan penyu di alam sulit dilakukan pengontrolan. Hal ini karena pada umumnya daerah penangkapannya terletak di kawasan perairan yang terpencil sehingga sulit untuk dijangkau, serta kurangnya sarana dan prasarana pengawasan yang memadai. Di samping itu tingginya harga jual penyu mendorong berbagai pihak untuk menangkap dan memperdagangkan penyu di berbagai daerah. Hal yang sangat memprihatinkan adalah penangkapan terhadap penyu betina maupun jantan yang dilakukan di perairan sekitar pantai peneluran, mengakibatkan penyu semakin cepat akan menuju kepunahan, karena penyu-penyu tersebut adalah penyu-penyu yang produktif. Tujuan yang ada di balik perdagangan penyu, antara lain dimanfaatkan dagingnya untuk santapan lezat, ataupun diambil karapasnya untuk dijadikan berbagai jenis suvenir dan lemaknya untuk bahan kosmetik. Apabila kegiatan penangkapan penyu yang tidak mengindahkan kelestarian masih berlangsung terus menerus, dikhawatirkan akan menimbulkan kelangkaan jenis yang pada gilirannya nanti akan menyebabkan punahnya jenis-jenis penyu tersebut.
Pemanfaatan Telur Penyu
Beberapa daerah peneluran penyu yang potensial, telah banyak yang dikontrakkan oleh Pemerintah Daerah kepada pihak swasta, seperti Pantai Pengumbahan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat; Kabupaten Berau, Kalimatan Timur, dan Kepulauan Riau. Walaupun dalam Peraturan Daerah sudah dicantumkan ketentuan ketentuan untuk menetaskan telur sebagai upaya pelestarian (restocking), dan penutupan masa pengambilan telur pada waktu-waktu tertentu atau sasi (cose season), namun dalam kenyataannya para pengontrak masih banyak pengumpulan telur penyu secara tidak sah, yang dapat mengakibatkan terancamnya populasi penyu di alam.
Gangguan Habitat Penyu
Habitat pakan merupakan lingkungan di mana dapat di temukan penyu dari berbagai kelompok usia dan jenis kelamin. Habitat pakan bersifat khas untuk tiap-tiap spesies, tergantung jenis makanan spesies penyu tersebut. Penyu hijau yang bersifat herbivor mempunyai habitat pakan berupa perairan dangkal yang kaya lamun dari jenis tertentu dan juga algae (rumput laut). Sementara penyu sisik yang carnivor umumnya berupa lingkungan perairan karang yang kaya akan sponge, sedangkan penyu belimbing makanannya adalah ubur-ubur/jelly fish
Menurunnya populasi penyu di alam selain diakibatkan oleh terjadinya tingkat pemanfaatan yang karang terkendali dan bertentangan dengan kaidah-kaidah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang terperbaharukan. Pertentangan ini antara lain: penangkapan dan pembantaian secara berlebihan dengan menggunakan alat-alat tombak, panah, dan faring. Di samping itu adanya gangguan terhadap terumbu karang dan padang lamun sebagai habitat penyu, wilayah pesisir dengan hutan pantainya sebagai tempat bertelur, dan adanya berbagai kegiatan pembangunan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan, misalnya: pembangunan hotel-hotel, tambak, pelabuhan, pengerukan, pabrik-pabrik dan penambangan serta pengeboran minyak di daerah lepas pantai.
Sifat khas wilayah pesisir yang mempunyai banyak kegunaan (multiple use) masih menimbulkan pertentangan kepentingan antar berbagai instansi, khususnya dalam pengembangan wilayah pesisir dan pantai seperti kegiatan reklamasi, diperlukan adanya koordinasi antar instansi terkait.

C.  Regulasi Perlindungan Penyu
Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati mauoun bagian tubuhnya itu dilarang. Menurut Undang Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu itu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan.
Berdasarkan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang. Badan Konservasi dunia IUCN memasukan penyu sisik ke dalam daftar spesies yang sangat terancam punah. Sedangkan penyu hijau , penyu lekang, dan penyu tempayan digolongkan sebagai terancam punah.
Ancaman terhadap penyu adalah perdagangan baik dalam bentuk daging, telur ataupun bagian tubuhnya. Penyu yang sering diperdagangkan dagingnya adalah jenis penyu hijau. Perdagangan daging penyu ini masih terjadi di Pulau Bali. Sedangkan jenis penyu yang sering diambil karapas sisiknya untuk dibuat cinderamata adalah penyu sisik. Pencemaran laut oleh minyak dan sampah plastik juga menjadi ancaman bagi kelestarian penyu.
Kementerian dalam negeri memerintahkan pemerintah daerah untuk melaliukanlangkah-langkah perlindungan penyu dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 523.3/5228/SJ/2011 tanggal 29 Desember 2011 tentang Pengelolaan Ppenyu dan Habitatnya, yang menginstruksikan kepada para Gubernur untuk selanjutnya mengkoordinasikan kepada para Bupati dan Walikota serta intansi terkait di wilayahnya untuk melindungi penyu melalui tindakan pencegahan, pengawasan, penegakkan hukum dan penindakan serta mensosialisasikan peraturan perundangan terkait, sekaligus pembinaan dalam rangka penyadaran masyarakat guna melindungi penyu.
Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka melakukan penertiban terhadap pemanfaatan penyu dan turunannya juga menerbitkan Surat Edaran No. SE 526 tahun 2015 tentang PELAKSANAAN PERLINDUNGAN PENYU, TELUR, BAGIAN TUBUH, DAN/ATAU PRODUK TURUNANNYA. 
  
Sumber :
http://www.menlh.go.id/pengelolaan-penyu-di-indonesia/