Sabtu, 20 April 2019

CIRI CIRI DAN FAKTOR PENYEBAB PENURUNAN KUALITAS IKAN


                                  Hasil gambar untuk IKAN SEGAR DAN BUSUK
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kesegaran Ikan mempunyai kesegaran maksimal apabila sifat-sifatnya masih sama dengan ikan hidup baik rupa, bau, cita rasa, maupun teksturnya. Apabila penanganan ikan kurang baik maka mutu atau kualitasnya akan turun. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesegaran ikan antara lain :
a. Pengaruh faktor alami dan biologis - Jenis ikan, ada ikan yang mudah dan cepat mengalami   pembusukan, umumnya ikan yang berukuran kecil lebih cepat membusuk. - Biologis, ikan yang kenyang saat ditangkap akan lebih cepat busuk.
b. Pengaruh cara penanganan (handling) - Cara penangkapan - Cara kematian ikan - Cara penanganan di kapal - Cara bongkar dan pendaratan - Cara penanganan di darat - Cara transportasi - Cara distribusi Ikan layur beku adalah ikan yang kondisinya dipertahankan segar dengan cara dibekukan, sehingga kualitas masih sama atau mendekati keadaan ikan yang baru ditangkap.

Ciri-ciri Ikan Segar dan Ikan Busuk
1.    Parameter Ikan segar
- Warna kulit terang dan jernih
- Kulit masih kuat membungkus tubuh, tidak mudah sobek, terutama pada bagian perut
- Warna-warna khusus yang ada masih terlihat jelas.
- Sisik menempel kuat pada tubuh sehingga sulit dilepas.
- Mata tampak terang, menonjol, dan cembung
- Insang berwarna merah sampai merah tua, terang dan lamella insang terpisah.
- Insang tertutup oleh lendir berwarna terang dan berbau segar seperti bau ikan.
- Daging kenyal, menandakan rigor mortis masih berlangsung.
- Daging dan bagian tubuh lain berbau segar.
 - Bila daging ditekan dengan jari tidak tampak bekas lekukan.
- Daging melekat kuat pada tulang.
- Daging perut utuh dan kenyal.
- Warna daging putih.
- Disimpan dalam air - Ikan segar akan tenggelam.
2.    Parameter  Ikan busuk
- Kulit berwarna suram, pucat dan berlendir banyak
- Kulit mulai terlihat mengendur dibeberapa tempat tertentu
- Kulit mudah sobek dan warna khusus sudah hilang Sisik  
- Sisik mudah terlepas dari tubuh.
 - Mata tampak suram, tenggelam dan berkerut.
- Insang berwarna cokelat suram atau abu-abu dan lamella insang berdempetan.
- Lendir insang keruh dan berbau asam, menusuk hidung.
- Daging lunak, menandakan rigor mortis telah selesai.
- Daging dan bagian tubuh lain mulai berbau busuk.
- Bila ditekan dengan jari tampak bekas lekukan.
 - Daging mudah lepas dari tulang.
- Daging lembek dan isi perut sering keluar.
 - Daging berwarna kuning kemerah-merahan di sekitar tulang punggung.
- Ikan yang sudah sangat membusuk akan mengapung di permukaan air.
Menurut SNI 6940.2:2011 (BSN 2011), persyaratan mutu bahan baku ikan layur beku harus bersih, bebas dari semua bau yang menandakan pembusukan dan bebas dari tanda dekomposisi yang dapat menurunkan mutu serta membahayakan kesehatan. Secara organoleptik bahan baku harus memenuhi karakteristik kesegaran, sebagai berikut: - Kenampakan : Bersih, warna daging spesifik jenis ikan segar - Bau : Spesifik segar menurut jenis ikannya - Tekstur : Elastis, padat dan kompak
Menjaga mutu suatu produk untuk tetap dalam keadaan yang baik merupakan tanggung jawab produsen terhadap konsumen. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi mutu suatu produk yaitu suhu, waktu, kebersihan, dan cara kerja.
1. Suhu Suhu memegang peranan penting dalam upaya menghasilkan produk ikan layur beku bermutu tinggi. Faktor suhu berperan dalam keseluruhan usaha produk, baik sejak awal ditangkap sampai produk akhir. Suhu produk pada saat penanganan harus dipertahankan, suhu produk maksimal 50C. Apabila suhu tidak diperhatikan maka akan berpengaruh terhadap mutu produk akhir. 2. Waktu Faktor suhu berkaitan dengan lamanya waktu suatu proses, penanganan, perlakuan, dan penyimpanan. Lamanya waktu dalam penanganan akan berpengaruh terhadap mutu produk akhir yang berkaitan dengan tingkat kesegaran produk.
3. Kebersihan Faktor kebersihan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjamin mutu produk. Faktor kesehatan hygiene selalu ditunjukan oleh keadaan bakteri dari kesegaran produk dan faktor suhu produk. Indikator yang digunakan yaitu jumlah bakteri yang terdapat pada produk ikan layur beku kondisi sarana, peralatan dan bahan yang terlibat dalam proses produksi. Faktor kebersihan peralatan harus diperhatikan, karena apabila tidak diperhatikan akan mempengaruhi terhadap penurunan mutu produk akhir yang dihasilkan.
4. Cara Kerja Kecermatan dalam penanganan harus dilakukan agar ikan layur tidak rusak dan daging terluka, untuk itu digunakan prosedur penanganan berdasarkan kualitas, ukuran, dan tujuan pemanfaatan serta pemasarannya. Semua kerusakan pada ikan layur akan menyebabkan ikan layur tidak terjual, pendek daya simpannya, dan berkurang mutunya.
Penurunan Mutu secara Fisik
Penurunan mutu secara fisik adalah kerusakan pada bagian luar tubuh ikan layur yang terjadi akibat penanganan dan perlakuan yang kurang baik sehingga dapat mempengaruhi mutu. Penanganan lebih awal akan sangat berpengaruh terhadap kualitas mutu yang dihasilkan. Perubahan fisik ikan yang terjadi pada proses kematian ikan karena diangkat dari air atau tercekik adalah : 1) Saat proses kematian akan keluar lendir dipermukaan tubuh ikan dengan jumlah yang berlebihan dan ikan akan menggelepar mengenai benda di sekelilingnya. Apabila benda yang terkena benturan ikan cukup keras, kemungkinan besar tubuh ikan akan menjadi memar dan luka-luka. 2) Selanjutnya setelah ikan mati secara perlahan-lahan akan mengalami kekakuan tubuh (rigor mortis) yang diawali dari ujung ekor menjalar ke arah bagian kepalanya. Lama kekakuan ini tergantung dari tingkat kelelahan ikan pada saat kematiannya. Setelah proses rigor mortis selesai, kerusakan ikan akan mulai terlihat berupa perubahan-perubahan: berkurangnya kekenyalan perut dan daging ikan, berubahnya warna insang, berubahnya kecembungan dan warna mata ikan, untuk ikan bersisik menjadi lebih mudah lepas sisiknya dan kehilangan kecemerlangan warna ikan, berubah baunya dari segar menjadi asam. 3) Perubahan tersebut akan meningkat intensitasnya sesuai dengan bertambahnya tingkat penurunan mutu ikan, sampai yang terakhir ikan menjadi tidak layak untuk dikonsumsi atau busuk. Cara penilaian kesegaran ikan menggunakan metode inderawi atau organoleptik merupakan cara yang paling mudah jika dibandingkan dengan uji laboratorium (secara biologi, kimia maupun fisika). Penilaian organoleptik dilakukan dengan mengamati bagian tubuh ikan yang sensitif terhadap perubahan mutu dagingnya. Perubahan mutu tersebut seperti warna/rupa, rasa, kekenyalan atau kekompakan daging, kondisi mata, kondisi insang, dinding perut dan aroma.
Penurunan Mutu secara Kimia
Penurunan mutu secara kimia adalah penurunan mutu yang berhubungan dengan komposisi kimia dan susunan tubuhnya. Penurunan mutu secara kimia terdiri dari penurunan mutu secara autolisis dan oksidasi. Autolisis adalah penguraian protein dan lemak oleh enzim proteolitik (pengurai protein) dan enzim lipolisis (pengurai lemak) menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti asam amino dan asam lemak. Enzim yang berperan dalam autolisis yaitu enzim proteolitik (pengurai protein) dan enzim lipolitik (pengurai lemak). Penurunan mutu ditandai dengan rasa, warna, tekstur, dan kenampakan yang berubah. Penurunan mutu secara autolisis berlangsung sebagai aksi kegiatan enzim yang merupakan proses penguraian pertama setelah ikan layur mati. Kecepatan autolisis tergantung pada suhu, semakin rendah suhu proses autolisis akan semakin lambat. Proses autolisis tidak dapat dihentikan pada suhu 0 0C, tetapi akan berlangsung lebih lambat. Kegiatan enzim dapat direduksi dan dikontrol dengan cara pendinginan, penggaraman, pengeringan, dan pengasaman atau dapat dihentikan dengan cara pemasakan ikan tersebut . Proses perubahan pada ikan dapat juga terjadi karena proses oksidasi sehingga timbul aroma tengik yang tidak diinginkan dan perubahan rupa serta warna daging kearah cokelat kusam. Bau tengik ini dapat merugikan, baik pada proses pengolahan maupun pengawetan, karena dapat menurunkan mutu dan harga jualnya
Penurunan Mutu secara Biologis
Penanganan yang tidak tepat pada produk perikanan dapat mempercepat terjadinya kerusakan akibat kontaminasi bakteri dan jamur. Penurunan mutu secara bakteriologis yaitu suatu proses penurunan mutu yang terjadi karena adanya kegiatan bakteri yang berasal dari selaput lendir dari 12 permukaan tubuh, insang, dan saluran pencernaan. Ikan hidup memiliki kemampuan untuk mengatasi aktivitas bakteri yang terdapat dalam tubuh ikan. Bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan, insang, saluran darah, serta permukaan kulit tidak dapat menyerang pada bagian-bagian tubuh ikan yang masih hidup. Ikan yang telah mengalami kematian tidak mengalami ketahanan dari serangan bakteri sehingga bakteri mulai berkembang dengan sangat pesat dan menyerang tubuh ikan. Bakteri menjadikan daging ikan sebagai makanan dan tempat hidupnya. Proses penguraian yang dilakukan oleh bakteri ini (disebut bacterial decomposition) menghasilkan pecahan-pecahan protein yang sederhana dan berbau busuk, seperti CO2, H2S, amoniak, indol, skatol, dan lain-lain.
Sumber :
2.    https://food.detik.com

MENGENAL BERBAGAI JENIS IKAN PARI

                                             Hasil gambar untuk biologi ikan pari
Perairan laut Indonesia dikenal memiliki biodiversitas sangat tinggi. Salah satu biota yang diduga diversitas jenisnya tinggi dan mempunyai nilai ekonomi adalah ikan pari. Ikan ini dikenal juga sebagai ikan batoid, adalah sekelompok ikan bertulang rawan dari urdo RAJIFORMES yang terdiri dari 8 famili, 49 genus dan 315 jenis. Ikan pari yang sudah diketahui saat ini ada 340 jenis, terdapat di seluruh perairan tropis, subtropis dan daerah iklim sedang. Di Indonesia, diversitas jenis ikan pari belum diketahui secara pasti, termasuk mengenai potensi, distribusi, ekologi, behavior, reproduksi dan aspek-aspek biologinya. Berdasarkan teori evolusi, ikan pari adalah cabang dari ikan hiu yang telah beradaptasi dengan kehidupan di dasar laut. Tekanan air di dasar laut merupakan faktor utama yang merangsang dan mengarahkan arus revolusi ikan pari. Bergesernya celah insang ke sisi bawah tubuh tidak hanya memungkinkan mampu lepas landas dengan "daya dorong semburan", tetapi juga memungkinkan sirip dadanya dapat terbentang di sekitar kepala sehingga terciptalah ikan pari zaman modern dengan sirip dada mirip sayap. Habitat yang disenangi ikan pari adalah dasar perairan pantai yang dangkal dengan substrat pasir dan Lumpur, dekat rataan terumbu karang (reef flat), laguna, teluk, muara sungai dan air tawar. Ada beberapa jenis yang hidup di laut lepas dekat permukaan sampai kedalaman lebih dari 2000 m.
BEBERAPA JENIS IKAN PARI YANG DIKETAHUI
1    1. Ikan pari gergaji (PRISTIDAE), merupakan ikan bertulang rawan pipih dengan moncong sangat panjang dan memiliki 16-32 buah gigi pada setiap sisinya. Tubuhnya agak mirip ikan hiu. Mempunyai dua sirip dada kecil yang tidak digunakan sebagai alat pendorong, karena daya dorong untuk berenang berasal dari gerakan tubuhnya yang berkelok-kelok seperti ikan hiu; dua sirip punggung, sirip perut dan sebuah sirip ekor. Celah insang terdapat pada sisi bawah kepala. Hidup di laut, payau dan air tawar di seluruh daerah tropis dan subtropis. Makanannya moluska, krustasea dan ikan. Bersifat ovovivipar. Ada 6 jenis yang sudah diketahui, diantaranya Pristis cuspidatus, yang banyak terdapat di Lautan Hindia dan Pasifik. "Gergaji"nya yang aneh itu adalah tulang rawan yang pipih, keras dan kaku, digunakan sebagai senjata untuk mempertahankan diri atau untuk menyerang mangsa. Salah seekor ikan pari gergaji di laboratorium Laut Lerner, Bimini - Kepulauan Bahama pernah terlihat menyerang ikan lain dari arah samping, menusuknya dengan salah satu gergajinya, kemudian menggosok-gosokkan di dasar air sampai lepas dan memakannya .
Ikan pari gergaji pada umumnya berukuran panjang 2 - 4 m, kecuali Pristis pectinatus yang merupakan jenis terbesar yang terdapat di Samudera Atlantik dan Laut Tengah, dapat mencapai panjang 5,4 m. Sedangkan yang banyak terdapat di Danau Nicaragua, Sungai Amazon dan seluruh perairan air tawar daerah tropis, yaitu Pristis perotteti.
2    2. Ikan pari sengat (DASYATIDAE), mempunyai 1-3 duri berbisa pada pangkal ekor yang dapat membuat luka sangat menyakitkan bahkan dapat mematikan. Terdapat sekitar 90 jenis dengan diameter "cakram" 0,30 - 2,1 m. Tubuhnya sangat pipih dengan bentuk bervariasi, ada yang bundar, segitiga atau belah ketupat. Sirip dada mirip sayap, sirip punggung kecil dan hanya satu, bahkan pada kebanyakan jenis tidak ada. Sirip ekor tidak ada, kecuali genus Aetoplatera dan Gymnura, yang berekor pendek. Semua ikan pari sengat berekor kecil panjang mirip cambuk, lebih panjang daripada tubuhnya. Mata terletak di puncak kepala dan di belakangnya terletak lubang pernapasan yang merupakan pintu masuk air untuk memasok insangnya yang terletak di sisi bawah belakang mulut. Di sisi atas dan di dekat pangkal pangkal ekor terdapat 1 - 3 sengat yang merupakan duri tajam, digunakan hanya untuk membela diri bila diganggu atau diserang. Di dalam duri tersebut terdapat sel-sel kelenjar bisa, sehingga di banyak daerah duri-duri ini digunakan sebagai ujung tombak. Panjang duri ini biasanya 7,5-10 cm, bahkan ada yang mencapai 38 cm pada ikan berukuran besar. Pari sengat biasanya berdiam diri di pasir atau Lumpur pada pantai yang dangkal dan sulit terlihat. Di Amerika Serikat setiap tahun terjadi sekitar 1500 "kecelakaan" yang diakibatkan oleh ikan pari sengat, beberapa diantaranya mengakibatkan kelumpuhan otot-otot jantung dan kematian. Umumnya ikan pari ini hidup di daerh bentik perairan pantai, selain di daerah payau dan air tawar di seluruh daerah tropis, subtropis dan daerah beriklim sedang dengan makanannya adalah cacing, moluska, krustasea dan ikan. Semua jenis ikan pari sengat bersifat ovovivipar (anaknya menetas di dalam rahim induk dan baru kemudian dilahirkan). Ikan pari sengat terbesar dari perairan Australia, yaitu Dasyatis brevicaudata, lebar tubuhnya 2,1 m. Semetara yang banyak terdapat di perairan Jamaica dan sangat ditakuti oleh para nelayan setempat adalah ikan pari sengat bundar (Urolophus jamicensis). Beberapa jenis ikan pari sengat dari perairan laut Indonesia, yaitu Taeniura lymma, Aetobatus narinari, Amphotistius kuhli, Pastinachus sephen dan Himantura uarnak. Ditangkap dengan bottom trawl, jaring insang dan pancing, dan dipasarkan dalam bentuk segar .
      3. Ikan pari hantu (MOBULIDAE), merupakan pari bertubuh besar dan berpenampilan ganjil, mempunyai 10 jenis. Sirip dadanya sangat mirip dengan ikan pari elang (Aetobatus narinari), kecuali mulutnya yang sangat jauh lebih besar dan dilengkapi dengan sepasang tonjolan pada kedua sisinya yang digunakan sekop ketika makan. Sirip dada beberapa jenis ikan pari hantu dapat mencapai lebar 6,6 m dan berat sekitar 1360 kg. Sirip punggungnya kecil, tidak ada sirip ekor dan pada beberapa jenis mempunyai duri bisa di bagian ekornya. Pada kebanyakan jenis, mulutnya terletak diujung, tetap terbuka ketika berjelajah. Hidup di dekat permukaan air, plankton dan kerangkerangan kecil adalah makanannya. Ikan pari ini sering terlihat meloncat dari air dan melayang di udara, dan menimbulkan bunyi seperti ledakan meriam ketika jatuh kembali ke air. Jenis Manta birostris yang terdapat di seluruh daerah Indo - Pasifik mempunyai gigi hanya pada rahang bawah. Demikian pula dengan genus Ceratobatis. dari perairan Jamaica hanya pada rahang atas saja. Sedangkan yang mempunyai gigi lengkap pada rahang atas dan bawah yaitu genus Mobula dari lautan Atlantik dan Indo - Pasifik dan genus Indomanta dari India. Semua ikan pari hantu bersifat ovovivipar (melahirkan anak). Dalam suatu pengamatan di lepas pantai Florida, menunjukkan bahwa sebuah embryo yang berada pada ikan pari betina dilontarkan ke udara sampai sejauh kira-kira 1,2 m. Embryo ini mula-mula mengeluarkan ekornya dan pada saat itu pula membentangkan sirip-sirip dadanya yang besar dengan ukuran dari ujung ke ujung lebih dari 90 cm. Akan tetapi hal ini bukan merupakan cara melahirkan yang biasa.
      4. Ikan pari luncur (RAJIDAE), mempunyai 119 jenis, bertubuh sangatpipih, berbentuk segi tiga dan belah ketupat. Panjang tubuh umumnya hanya 30 - 60 cm, walaupun ada juga yang mencapai 2,4 m. Sirip dadanya mirip sayap berukuran sangat besar, terbentang rata dari moncong kemudian meruncing secara tiba-tiba. Sirip ekor tidak ada. Ekornya ramping, berukuran sama atau lebih pendek dari tubuhnya, terdapat 1 atau 2 sirip punggung di ujung ekor (pada jenis yang lain tidak ada). Mata terdapat pada bagian atas kepala dengan sepasang lubang di belakangnya. Di sepanjang punggung, ekor dan sirip dada sering dilengkapi dengan duri-duri. Celah insang terletak disisi bawah, seperti juga mulutnya, yang memiliki serangkaian gigi mirip trotoar pipih pada setiap rahangnya. Moncong ikan pari luncur umumnya berujung runcing. Berbeda dengan semua jenis ikan pari lain yang melahirkan anak, ikan pari luncur ini menghasilkan telur (ovipar). Telur besar yang yang dihasilkan terbungkus dengan kapsul tanduk persegi panjang dengan sulur pendek dan runcing pada setiap sudutnya. Telur ini sering dijumpai di pantai dan dikenal sebagai "dompet puteri duyung". Anaknya tetap berada di dalam kapsul itu sekurang-kurangnya selama 4 bulan. Ikan pari luncur tersebar di seluruh dunia, kebanyakan berada di perairan dangkal, walaupun ada juga yang ditemukan pada kedalaman lebih dari 2000 m. Sejumlah jenis ikan pari luncur memiliki organ penghasil tegangan listrik lemah di sepanjang sisi ekor, digunakan sebagai detector untuk mengetahui posisi mangsa, lawan jenis, rintangan, musuh dan lain-lain. Warnanya sangat bervariasi dan dapat berubah-ubah sesuai warna latar belakangnya. Raja naevus adalah pari bermoncimh panjang yang banyak terdapat di lepas pantai Inggris. Berwarna cokelat tua atau abu-abu pada punggung dan perut, panjangnya dapat mencapai 2,1 m dan berat sekitar 90 kg. Sedangkan ikan pari luncur kecil di Atlantik Utara yang banyak menyebar dari Nova-Scotia sampai California, yaitu Raja erinacea, panjang tubuh hanya 51 cm.
Sumber :
2.    DJAMALI, A, BURHANUDIN dan M. HUTOMO, 1994. Fauna ikan-ikan laut berbisa dan beracun di Indonesia. Proyek Pemasyarakatan dan Pemberdayaan IPTEK, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI:


Sabtu, 13 April 2019

BUDIDAYA IKAN NILA SALIN

Hasil gambar untuk nila salin


Ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan yang memiliki potensi cukup baik untuk dikembangkan. Beberapa kelebihan yang dimiliki ikan ini adalah mudah dipelihara, bernilai ekonomis tinggi, responsif terhadap pakan tambahan, kelangsungan hidupnya tinggi, dapat mentolerir salinitas pada kisaran yang luas, mampu berkembangbiak dengan cepat, serta memiliki struktur daging putih bersih, tebal dan kenyal.
Untuk pasar ekspor, Amerika merupakan yang paling potensial, dan membutuhkan pasokan nila fillet per tahunnya sekitar 90 ton/thn. Masih banyak yang membutuhkan pasokan ikan nila dalam jumlah yang besar, diantaranya adalah Hongkong, Singapura, Jepang dan Eropa. Menurut FAO (Food Agricultural Organization), pasar dunia sampai 2010 masih kekurangan pasokan ikan nila sebanyak 2 juta ton/tahun. Permintaan pasar akan ikan nila yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun menuntut para pelaku budidaya untuk meningkatkan produksinya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Salah satu upaya untuk mendapatkan produksi yang tinggi adalah melalui pengelolaan induk
yang baik dengan mengoptimalkan faktor lingkungan yang dapat mendukung kondisi fisiologi dari ikan yang dibudidayakan. Ikan nila pada umumnya dibudidayakan di perairan tawar, namun belakangan ini areal untuk budidaya ikan air tawar semakin sempit seiring meningkatnya kompetisi penggunaan lahan oleh berbagai jenis ikan air tawar. Sementara disis lain, ketersediaan lahan tambak masih tersedia luas. Hal ini mendorong dilakukannya upaya pengembangan budidaya nila di perairan payau (tambak) dan laut atau yang lebih dikenal dengan nila salin. Budidaya ikan nila salin telah dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia, diantaranya adalah adalah Aceh, Jawa Tengah, Jawah Barat, Sumatera Utara dan Lampung. Beberapa penelitian tentang salinitas dan kaitannya dengan kajian fisiologi terhadap ikan nila juga telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ikan nila lebih tinggi bila dipelihara pada salinitas > 5 ppt. Pada salinitas 10 ppt ketahanan tubuh ikan nila menjadi lebih baik serta merupakan kondisi lingkungan terbaik yang mempengaruhi reproduksi pada induk ikan nila seperti fekunditas, nilai GSI (gonad somatik indeks), perkembangan embrio dan waktu inkubasi telur. Penampilan dan reproduksi ikan nila lebih baik pada salinitas 5-15 ppt dari pada di air tawar dan air laut 30 ppt.
Ikan nila merupakan jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara luas di Indonesia. Teknologi budidayanya sudah dikuasai dengan tingkat produksi yang cukup tinggi. Ikan nila dapat dipelihara di KJA, kolam, kolam air deras, perairan umum baik sungai, danau maupun waduk.Jenis ikan nila yang dikembangkan di masyarakat adalah nila hitam dan nila merah. Dalam rangka perbaikan genetik, jenis ikan nila yang telah berhasil dikembangkan adalah nila GESIT, nila JICA, nila LARASATI, nila BEST, nila NIRWANA, nila JATIMBULAN. Beberapa tahun terakhir karena permasalahan di lapangan terutama pantai Utara Pulau Jawa, banyak sawah-sawah pertanian terkena dampak pasang (Rob), sehingga lahan tersebut tidak bisa diperuntukkan sebagai produksi tanaman padi. Oleh karena itu di BBPBAP Jepara telah megembangkan inovasi teknologi budidaya nila SALIN (media air dengan salinitas 15 – 25 promil). Peluang pasar ikan nila cukup besar, baik dipasar lokal maupun pasar ekspor. Oleh karena itu upaya pengembangan usaha budidaya ikan nila masih terbuka untuk dikembangkan dalam berbagai skala usaha.
Sebutan ”nila” pada ikan nila (Oreochromis niloticus) merujuk nama Sungai Nil di Afrika sebagai tempat asalnya, sekaligus menegaskan bahwa ikan itu berjenis ikan air tawar. Namun, para peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil merekayasanya menjadi ikan tahan air asin.
”Hasil rekayasa diberi nama ikan nila salin karena tahan salinitas tinggi,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar, Selasa (29/11), saat peluncuran ikan itu di Jakarta.
Bersamaan ikan nila salin diluncurkan juga vaksin DNA Streptococcus, pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan, serta pencanangan pengembangan ikan nila salin di Karawang, Jawa Barat, dan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Marzan menyebut ini sebagai paket inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Vaksin DNA Streptococcus untuk meningkatkan kekebalan ikan nila salin terhadap risiko serangan bakteri Streptococcus yang mematikan. Pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan merupakan rekayasa pakan dengan kandungan protein yang sesuai untuk mempercepat pertumbuhan ikan nila salin.
Ikan Konsumsi
Nila masuk ke Indonesia dari Taiwan untuk dipelihara dan dikembangbiakkan di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar di Bogor, Jawa Barat, tahun 1969. Jenis ikan produksi ini termasuk banyak dikonsumsi di dunia dengan produsen terbesar China, Mesir, dan Indonesia.
Husni Amarullah, salah satu perekayasa BPPT yang turut meneliti ikan nila salin, mengatakan, metodenya melalui proses seleksi persilangan (dialling crossing) dari delapan varietas ikan nila. ”Seleksi pertama dengan uji tantang,” kata Husni.
Uji tantang adalah mengganti air tawar dengan air asin. Dari air tawar dengan salinitas hampir nol ditingkatkan salinitasnya sampai 10 bagian per seribu (parts per thousand/ppt), 20 ppt, dan 30 ppt.
Ikan yang berhasil melampaui uji tantang akan diseleksi. Kemudian, ikan-ikan itu disilangkan. Proses penyilangan menghasilkan ikan nila salin yang tahan tingkat salinitas 20 ppt atau air payau. ”Air laut memiliki tingkat salinitas 30-35 ppt,” ujar Husni.
Husni mengatakan, pengembangan ikan nila salin ke depan diperlukan yang mampu hidup di air laut. Dengan demikian, ikan bisa dibudidayakan di laut dengan jaring apung.
Pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan direkayasa dengan teknik pengambilan hormon pertumbuhan pada kelenjar pituitari ikan nila. Selanjutnya, digunakan teknik rekombinasi protein dengan bakteri Escherichia coli yang mudah dikembangbiakkan.
Dari proses itu dihasilkan protein rekombinan hormon pertumbuhan yang dicampurkan pada granula (butiran) pakan ikan. Husni mengatakan, dengan kadar protein yang sesuai dan kandungan hormon pertumbuhan itu, diharapkan dalam jangka enam bulan bisa diproduksi nila salin berbobot 600 gram.
”Bobot 600 gram per ekor ikan salin untuk konsumsi ekspor. Untuk konsumsi domestik sekitar 250 gram per ekor,” kata Husni.
Budidaya Tambak
Marzan mengatakan, ikan nila salin semula dirancang untuk menggantikan komoditas ikan bandeng dan udang windu. Dua komoditas ini makin tidak tahan dengan kualitas lingkungan tambak yang memburuk. Akibatnya, banyak tambak telantar karena budidaya bandeng dan udang tidak lagi memungkinkan.
Menurut Husni, Indonesia memiliki potensi tambak seluas 1,2 juta hektar. Saat ini luas tambak 680.000 hektar, 50 persennya (340.000 hektar) telantar.
Ketua Perhimpunan Pembudidaya Tambak Pantura, Jawa Barat, Endi Muchtarudin hadir dalam peluncuran ikan nila salin. Endi bersama petani tambak lain di Karawang akan menguji coba nila salin, terutama di tambak-tambak telantar.
Bupati Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah juga menyatakan siap memproduksi ikan nila salin. Di Kabupaten Bantaeng akan dibangun pusat pembenihan ikan nila salin.
”Dari sisi pasar, Bantaeng siap menerima produk ikan nila salin. Saat ini warga Bantaeng mengolah ikan laut untuk diekspor ke Jepang dan masih kekurangan pasokan bahan baku,” tutur Nurdin.
Ikan nila salin dengan penunjangnya, yakni vaksin DNA Streptococcus dan pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan, dipersiapkan menjadi komoditas baru tambak-tambak yang kini telantar. Inovasi ikan nila salin menjadi harapan bagi penciptaan lapangan kerja baru.
Sumber :
2.    perbenihan-budidaya.kkp.go.id


Kamis, 04 April 2019

MENGENAL SURIMI



Hasil gambar untuk surimi 
1. Pengertian Surimi

Surimi merupakan produk olahan hasil perikanan se­tengah jadi. Bahan bakunya berupa daging ikan lumat beku yang telah mengalami proses pencucian (leaching), pengepres­an, penambahan bahan tambahan (cryoprotectant), dan pengepakan. Surimi biasanya dibuat dari ikan laut berdaging putih dan digunakan se­bagai bahan awal pembuatan aneka produk olahan ikan (Fish Jelly Pro­duct), seperti: sosis, otak-otak, nug­get, kamaboko, suji, chikuwa, ekado, lobster/udang/kepiting imitasi, dan lainnya.
Surimi biasanya disimpan dan diperjual belikan dalam bentuk beku atau frozen. Sebelum surimi diolah maka terlebih dahulu harus di thaw­ing atau dicairkan atau dipotong kecil-kecil. Selanjutnya surimi bisa dicampurkan dengan bahan lain dan dimasak sesuai dengan proses produksinya.
Pada umumnya produk olahan surimi merupakan makanan yang digemari oleh masyarakat Asia, terutama Asia Timur seperti Jepang, Korea, Taiwan, bahkan termasuk di Indonesia. Namun produk olahan surimi kini telah berkembang men­jangkau ke berbagai belahan dunia. Produk ini merupakan produk yang ready to eat maupun ready to cook.
Surimi merupakan konsentrat protein miofibril tersta­bilkan yang diperoleh dari daging ikan lumat setelah mengalami pro­ses pencucian dengan air dingin dan atau dicampurkan dengan bahan cryoprotectant. Surimi belumlah menjadi produk jadi, namun dapat diolah lagi menjadi variasi produk pangan, yakni dari kamaboko tradi­sional hingga menjadi produksea­food substitusi.
Teknologi surimi dan daging lumat memungkinkan untuk dite­rapkan dalam pemanfaatan ikan bernilai ekonomis rendah. Saat ini surimi secara komersial telah dipro­duksi secara mekanis. Rangkaian proses ikan menjadi surimi terdiri dari tahap preparasi, pemisahan daging (filleting), pelumatan, pencu­cian, penyaringan dan pemerasan.
Setelah tahap pemerasan dihasilkan surimi mentah (raw surimi), yang dikenal sebagai na-na surimi. Adapun surimi beku (atau frozen surimi) adalah surimi yang telah dicampur dengan bahan anti-denaturasi (cryoprortectant) dan selanjutnya dibekukan. Berdasarkan kandungan garamnya surimi beku dibedakan menjadi dua jenis yaitu mu-en surimi (surimi tanpa garam) dan ka-en surimi (surimi dengangaram).
Beberapa proses pengolahan produk berbasis surimi beserta contohnya antara lain proses pengukusan/pemasakan (kamaboko, hanpen, dan naruto), proses penggorengan (tempura dan satsumage), proses pemanggangan (chikuwa) dan proses olahan lain (sosis ikan dan ham ikan).
Hasil gambar untuk surimi
Pada proses pembuatan surimi, pencucian merupakan tahapan pen­ting untuk menghilangkan lemak, darah, enzim, protein sarkoplasma yang dapat menghambat pemben­tukan gel, meningkatkan kemam­puan pembentukan gel, dan meng­hambat denaturasi protein akibat pembekuan.
Banyaknya proses pencucian dalam produksi surimi dengan kualitas yang baik ditentukan oleh jenis, komposisi, dan kesegaran bahan baku ikan. Proses pencucian juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi protein miofibril sehingga kualitas surimi tergolong tinggi.
Yang menarik, menurut penme­litian IPB, mengolah surimi meng­gunakan teknologi. Keunggulan teknologi surimi antara lain, mampu memanfaatkan berbagai jenis ikan baik jenis ikan ekonomis maupuni­kan non-ekonomis. Lalu surimi beku mampu tersimpan dalam jangka waktu lama dengan kandungan protein fungsional yang masih cu­kup tinggi.
Selain itu, banyak variasi surimi based product dihasilkan dengan berbagai bentuk dan rasa dari ap­likasi teknologi pengolahan dan penambahan bumbu-bumbu. Dan teknologi saat ini mampu mem­produksi surimi dalam jumlah besar dengan konsistensi kualitas terjaga.
 Surimi merupakan salah satu bentuk produk olahan setengah jadi (intemediate product) yang memiliki daya tinggi dalam pengembangan produk olahan ikan. Surimi merupakan daging lumat yang dibersihkan dan dicuci berulang-ulang sehingga sebagian besar komponen bau, darah, pigmen dan  lemak hilang. Jika disimpan, surimi disimpan dalam bentuk beku dengan menambahkan bahan antidenaturasi (cryoprotectant). Surimi belumlah menjadi produk jadi, namun dapat diolah lagi menjadi variasi produk pangan, yakni dari kamaboko tradisional hingga menjadi produk seafood substitusi. Teknologi surimi dan daging lumat memungkinkan untuk diterapkan dalam pemanfaatan ikan bernilai ekonomis rendah. Saat ini surimi secara komersial telah diproduksi secara mekanis. Pabrik surimi dapat ditemukan di beberapa lokasi di Indonesia.

Pada proses pembuatan surimi, pencucian merupakan tahapan penting untuk menghilangkan lemak, darah, enzim, protein sarkoplasma yang dapat menghambat pembentukan gel, meningkatkan kemampuan pembentukan gel, dan menghambat denaturasi protein akibat pembekuan. Banyaknya proses pencucian dalam produksi surimi dengan kualitas yang baik ditentukan oleh jenis, komposisi, dan kesegaran bahan baku ikan.  Proses pencucian  juga sangat  bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi protein miofibril  sehingga kualitas surimi tergolong tinggi. 

Industri surimi terus memodernisasi proses dan produktivitasnya. Hal ini terus berkembang  seiring dengan terus meningkatnya permintaan surimi oleh pasar dunia. Keunggulan teknologi surimi meliputi: (a) mampu memanfaatkan berbagai jenis ikan baik jenis ikan ekonomis maupun ikan non-ekonomis; (b) surimi beku mampu tersimpan dalam jangka waktu lama dengan kandungan protein fungsional yang masih cukup tinggi; (c) banyak variasi surimi based produk dihasilkan dengan berbagai bentuk dan rasa dari aplikasi teknologi pengolahan dan penambahan bumbu-bumbu; dan (d) teknologi saat ini mampu memproduksi surimi dalam jumlah besar dengan konsistensi kualitas terjaga.

2.  Bahan Baku Dan Jenis-jenis Surimi 
Secara teknis semua jenis ikan dapat diolah menjadi surimi. Seperti ikan non ekonomis atau hasil tangkapan samping. Tetapi penggunaan ikan berdaging putih, tidak berbau lumpur dan tidak terlalu amis serta mempunyai kemampuan membentuk gel yang bagus akan memberikan hasil surimi yang lebih baik. Berdasarkan kandungan garamnya surimi beku dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
     1. Mu-en surimi, yaitu surimi yang telah dibuat dengan penambahan gula dan fosfat tanpa pengambahan garam (NaCl) dan telah mengalami pembekuan.
      2. Ka-en surimi, yaitu surimi yang dibuat dengan gula dan garam tanpa penambahan fosfat dan telah mengalami proses pembekuan.
     3. Nama surimi, yaitu surimi yang tidak mengalami proses pembekuan karena ketersediaan bahan baku yang melimpah. Biasanya surimi ini langsung diolah menjadi produk jadi.

3. Proses Pengolahan Surimi
Rangkaian proses  ikan menjadi surimi terdiri dari  tahap  preparasi, pemisahan daging (filleting), pelumatan, pencucian, penyaringan dan pemerasan. Setelah tahap pemerasan dihasilkan surimi  mentah  (raw surimi), yang dikenal sebagai na-na surimi. Adapun surimi beku (atau frozen surimi) adalah surimi yang telah dicampur dengan bahan anti-denaturasi (cryoprortectant) dan selanjutnya dibekukan. 
 Sebelum  dilakukan penggilingan,  air  yang  berada  didalam daging ikan dibuang terlebih dahulu dengan cara diperas atau  disentrifugasi. Alat penggiling yang  digunakan sebaiknya tipe penggiling dingin,  agar  dapat mempertahankan mutu  surirni  (mencegah denaturasi protein akibat  panas  penggilingan). Selama penggilingan ditambahkan krioprotektan  (bahan  anti denaturasi protein terhadap pembekuan) berupa gula (sukrosa, dekstrosa atau  sorbitol)  dan bahan pengikat (pati). Surimi yang diperoleh (berupa  adonan), kemudian dikemas dalam kantong plastik dan seianjutnya dibekukan dalam suhu -100C sampai -20 0C. Sebelum digunakan  surimi  harus  dicairkan  (thawing) dan digiling lebih dahulu, baru kemudian diolah menjadi produk akhir yang diinginkan. 
Fokus utama dalam pembuatan surimi adalah mempertahankan  sifat fungsional protein dan meningkatkan kemampuan pembentukan gel. Cryoprotectant dapat mencegah terjadinya denaturasi protein (terutama menjaga stabilitas aktomiosin) selama penyimpanan beku. Fungsi kerja Cryoprotectant dengan meningkatkan tekanan permukaan air begitu juga jumlah air yang terikat. Semua surimi komersial tersimpan dalam bentuk beku. Cryoprotectant digunakan untuk meminimalkan denaturasi protein selama penyimpanan beku. Cryoprotectant yang umum digunakan umumnya sukrosa (4%) dan sorbitol (4-5%), dengan atau tanpa penambahan sodium fosfat sebanyak (0,3%).

4.  Karakteristik Surimi
Mutu surimi beku umumnya dinilai dari kekuatan gel yang baik, kandungan air, dan warnanya  yang cenderung putih. Mutu ini sangat tergantung dari berbagai faktor seperti spesies ikan, kesegaran ikan, metode dan kualitas air, pengawasan suhu pembekuan dan penyimpanan serta kondisi penanganan dan distribusi. Kualitas surimi ditentukan pula  dengan adanya proses pencucian yang  menghilangkan lemak  dan  bahan asing yang tak diharapkan. Lebih dari itu kualitas surimi yang baik ditunjukkan selama penyimpanan  (beku) mampu menjaga konsentrasi miofibril dan pembentukan gel. Secara  garis besar kualitas tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (biologi) dan eksternal (proses). Faktor internal yang mempengaruhi kualitas surimi yakni jenis ikan, musim dan kematangan gonad ikan, serta tingkat kesegaran mutu ikan. Adapun faktor eksternal yang dimaksud antara lain adalah proses pemanenan, penanganan ikan, mutu air, lama proses dan suhu pengolahan, frekuensi dan besar perbandingan air pencucian, nilai pH dan salinitas.
Sumber :
2.    http://www.koran-jakarta.com/surimi--produk-olahan-ikan-setengah-jadi/

Jumat, 29 Maret 2019

MENGENAL LEBIH DEKAT : IKAN SEBELAH

                                       Hasil gambar untuk evolusi ikan sebelah
Disebutnya flatfish atau orang Indonesia sering menyebut ikan sebelah masuk dalam ordo Pleuronectiform, ikan berbadan pipih, kedua mata yang berada pada satu sisi (atas), sementara sisi yang satunya tidak ada mata dan sedikit pigmen. Justru itulah yang menjadikan menjadikan ikan ini paling unik diantara ikan bertulang belakang yang berbentuk simetris.
Ikan sebelah atau dalam bahasa latinnya Pleuronectidae merupakan ikan yang bentuk tubuhnya pipih. Ikan ini hidup di dasar air baik air tawar maupun asin. Ikan ini banyak menghabiskan waktu di dasar air menunggu mangsanya. Begitu mangsa lewat, maka ia pun akan segera menangkap dan menelannya.

Ikan ini mempunyai kemampuan untuk menyamarkan tubuhnya dengan lingkungan sekitarnya sebagai penyamaran, sehingga mangsanya dapat dikelabui dan dapat dengan mudah untuk ditangkap.

Ikan ini dalam perkembangannya memiliki metamorfosa yang aneh karena pada saat ia masih larva hingga menjadi ikan sebelah yang dewasa, tubuhnya makin berbentuk pipih, sedangkan salah satu matanya bergerak kearah salah satu sisi tubuhnya. Setelah itu warna bagian tubuh bawah berubah menjadi putih.
Salah satu jenis ikan ini (ikan halibut) memiliki ukuran tubuh hingga 2,7 meter dengan berat 270 kilogram. Ikan halibut memakan mahluk laut seperti cumi-cumi, udang, dan kepiting. 
 
Metamorfosis ikan ini juga sangat aneh. Awalnya, ikan ini berbentuk simetris, persis seperti ikan-ikan lain pada umumnya. Namun, lama kelamaan bentuknya berubah menjadi pipih. Bahkan salah satu matanya bergerak ke arah sisi tubuhnya yang lain dan sisi satunya lagi, nggak memiliki mata.
Secara morfologi ikan ini mempunyai bentuk badan pipih, kedua mata berada pada salah satu sisi, sedang sisi yang lain tidak ada mata (karena itulah ikan ini disebut ikan sebelah) dan sedikit pigmen. Panjang ikan ini rata-rata sekitar 30 cm dan dapat mencapai 45 cm. Ikan ini banyak ditemukan di estuari dan air dangkal, di dasar pasir atau lumpur sampai kedalaman 200 m. Ikan Sebelah yang masih muda umumnya ditemukan di air payau. Makanan utama ikan ini adalah hewan-hewan benthic, umumnya yang berkulit keras dan tak bertulang punggung.
Bentuk asimetris yang ada pada Ikan Sebelah merupakan hasil evolusi tengkorak flatfish secara bertahap. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya fosil ikan bermata aneh dari perairan Eropa Kuno. Fosil ini diperkirakan hidup 50 juta tahun lalu, dengan satu mata di atas kepalanya dan satunya berada di sebelahnya. Bentuk asimetris ini memungkinkan mereka untuk berbaring datar di dasar laut sambil menunggu mangsanya. Fosil ikan sebelah juga ditemukan di museum di Inggris, Perancis, Italia dan Austria. Ikan–ikan tersebut tinggal di perairan dangkal yang hangat di Eropa pada Zaman Eocene Epoch ketika dunia masih beriklim sedang, serta ikan paus dan burung-burung modern baru pertama kali berevolusi.
 Ikan Sebelah biasanya bertelur di daerah lepas pantai dan ada yang bertelur di muara sungai. Dalam sekali reproduksi betina mampu melepaskan beberapa ratus ribu telur sampai dua juta telur. Telur-telur tersebut akan menjadi larva berukuran 1,5 – 3 mm. Pada saat ia masih larva hingga menjadi ikan sebelah yang dewasa, tubuhnya makin berbentuk pipih, sedangkan salah satu matanya bergerak kearah salah satu sisi tubuhnya. Setelah itu warna bagian tubuh bawah berubah menjadi putih.
Kandungan nutrisi ikan ini cukup tinggi dan rasanya juga enak, daging ikan sebelah memang tidak terlalu tebal tetapi  rasanya sangat gurih. Ikan ini juga dipercaya dapat meningkatkan stamina. Ikan Sebelah biasanya dieksport dalam bentuk fillet dengan tujuan Uni Eropa. Jenis yang diminati dan mempunyai nilai jual yang tinggi  adalah Psetta maxima. Jenis lain yang juga mempunyai pasar eksport adalah Engyprosopon sp yang banyak ditemukan di perairan Semarang dan sekitarnya dengan tujuan eksport ke Jepang.

Ikan berbadan pipih ini suka sekali menyamar, menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya dengan cara memendamkan badannya ke dalam lumpur atau pasir di dasar taut, sementara hanya matanya yang muncul ke permukaan. Matanya dapat diangkat atau diturunkan dan digerakkan dengan bebas. lkan ini memakan terutama binatang berkulit keras, hewan tak bertulang punggung. Tanpa gerak,dengan sangat sabar ia menunggu mangsanya sampai mangsa benar-benar dekat dan lengah dengan gerakan yang sangat cepat dan mendadak menyergap, jarang sekali mangsa dapat lolos dari sergapannya. Sepertinya predator ini diciptakan demikian, pertama untuk melindungi diri dari predator yang lebih besar, kedua untuk memudahkan ia memangsa.
Ordo ini terdiri dart berbagai variasi spesies. Berdasarkan temuan para peneliti dari UE telah terkumpul sebanyak 28 spesies ikan sebelah (flatfish), dan hanya ada 6 spesies yang memiliki nilai komersial tinggi, yanu Botidae, Cynoglossidae, Citaridae, Pleuronectidae, Scoftalmidae, dan Soleidae. Jenis produk ini dipasarkan dalam bentuk fillet, dengan pasar utama Eropa. Dari keenam spesies di atas masing-masing memiliki karakter plot yang berbeda-beda yang mungkin akan rnemuudahkan bagi kita untuk mengidentifikasi, karena yang ada di pasaran dalam bentuk fillet maka yang sering terjadi ketika produk yang lebih berkualitas tidak ada diganti dengan produk yang kualitasnya lebih rendah. Di antara produk flatfish yang paling unggul kualitasnya adalah jenis turbot (Psetta maxima) yang berasal dari Mediterania. Jenis inilah yang di pasaran Eropa sering diganti (dipalsukan) dengan jenis lain yang kualitasnya lebih rendah, yaitu jenis Scophtalmus rhombus, kenapa? karena tekstur dan warna dagingnya mirip dan sulit dibedakan.

Secara komersial ikan ini cukup penting karena disamping kandungan nutrisinya yang cukup tinggi rasanya juga nikmat, akan tetapi di alam stoknya terbatas. Ikan dalam spesies benthic ditemukan di perairan tropis dan hangat, biasanya bertelur di daerah lepas pantai, beberapa bertelur di muara sungai. Pada saat tingkat kesuburan tinggi, betina biasanya melepaskan sedikitnya beberapa ratus ribu telur. Untuk betina yang berukuran besar mampu bertelur hingga mencapai lebih dari 2 juta, dan dengan segera telur-telur itu menjadi larvae berukuran 1,5-3 mm.
Ikan berbadan pipih ini suka sekali menyamar, menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya dengan cara memendamkan badannya ke dalam lumpur atau pasir di dasar taut, sementara hanya matanya yang muncul ke permukaan. Matanya dapat diangkat atau diturunkan dan digerakkan dengan bebas. lkan ini memakan terutama binatang berkulit keras, hewan tak bertulang punggung. Tanpa gerak,dengan sangat sabar ia menunggu mangsanya sampai mangsa benar-benar dekat dan lengah dengan gerakan yang sangat cepat dan mendadak menyergap, jarang sekali mangsa dapat lolos dari sergapannya. Sepertinya predator ini diciptakan demikian, pertama untuk melindungi diri dari predator yang lebih besar, kedua untuk memudahkan ia memangsa.
Ordo ini terdiri dart berbagai variasi spesies. Berdasarkan temuan para peneliti dari UE telah terkumpul sebanyak 28 spesies ikan sebelah (flatfish), dan hanya ada 6 spesies yang memiliki nilai komersial tinggi, yanu Botidae, Cynoglossidae, Citaridae, Pleuronectidae, Scoftalmidae, dan Soleidae. Jenis produk ini dipasarkan dalam bentuk fillet, dengan pasar utama Eropa. Dari keenam spesies di atas masing-masing memiliki karakter plot yang berbeda-beda yang mungkin akan rnemuudahkan bagi kita untuk mengidentifikasi, karena yang ada di pasaran dalam bentuk fillet maka yang sering terjadi ketika produk yang lebih berkualitas tidak ada diganti dengan produk yang kualitasnya lebih rendah. Di antara produk flatfish yang paling unggul kualitasnya adalah jenisturbot (Psetta maxima) yang berasal dari Mediterania. Jenis inilah yang di pasaran Eropa sering diganti (dipalsukan) dengan jenis lain yang kualitasnya lebih rendah, yaitu jenis Scophtalmus rhombus, kenapa? karena tekstur dan warna dagingnya mirip dan sulit dibedakan. Indonesia adalah salah satu negara pemasok flatfish ke Uni Eropa.

Hewan ini dikenal di Indonesia dengan nama ikan sebelah dan masuk dalam family pleuronectidae. Bentuknya pipih dan hidup di air tawar atau asin. Ikan sebelah banyak menghabiskan waktunya di dasar perairan sambil menunggu mangsa. Uniknya, ikan ini bisa menyamakan warna tubuhnya dengan keadaan sekitar, makanya selalu berhasil menangkap buruannya.
Ikan Sebelah Laut atau juga dikenali sebagai ikan sisa Nabi, merujuk kepada sekumpulan ikan dalam genus Pseudorhombus atau Achiroides. Ikan air masin dan tawar ini terdapat di kawasan tropika, termasuk di negara-negara ASEAN.
Ikan Sebelah Laut ini amat penting secara komersil. Ikan ini dikatakan mengandungi kandungan nutrisi yang cukup tinggi disamping memiliki rasa yang lazat. Bagaimanapun, stok ikan ini adalah terbatas. Ikan dalam spesies benthic ini banyak boleh ditemui di perairan tropika dan hangat, biasanya bertelur di kawasan lepas pantai dan muara sungai. Pada waktu kesuburan tinggi, ikan betina biasanya melepaskan sehingga beberapa ratus ribu telur. Untuk betina yang berukuran besar mampu bertelur sehingga mencapai lebih dari 2 juta. Telur-telur ikan dengan segera menjadi larvae berukuran 1.5-3 mm.
Sumber :

4.    http://kolampancingcs.blogspot.com/2012/02/ikan-sebelah-flatfish.html