
Pada
awalnya pemeliharaan larva dilakukan dengan sistem air tenang, tanpa adanya
pergantian air. Pergantian air dimulai
pada hari ke 7 sebanyak 5 – 10% dari volume tergantung dari kondisi air dan
kondisi larva. Pergantian air ini
dilakukan mengingat kualitas air sudah mulai menurun. Pergantian air dilakukan
dengan cara membuang air dengan selang.
Ujung selang diberi saringan, kekuatan sedot selang diusahakan
sedemikian rupa agar larva tidak ikut tersedot. Pergantian air dilakukan pada
pagi hari. Pergantian mulai dilakukan
secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak (70-400%) seletah larva diberi
artemia dan mikro pelet.
Pergantian air dilakukan dengan
cara sistem air mengalir, sehingga saat
diberikan pakan buatan sistem pemeliharaan berubah dari sistem air tenang ke
sistem air mengalir. Hal ini dilakukan
karena pakan buatan yang tidak termakan, dalam waktu yang relatif singkat dapat
menurunkan kondisi media pemeliharaan.
Selanjutnya jika dianggap perlu, untuk mempertahankan kualitas air ke
dalam bak pemeliharaan larva dimasukkan bakteri pengurai. Bakteri tersebut dapat menguraikan amoniak
dan nitrat yang sangat berbahaya bagi larva menjadi bentuk lain yang tidak berbahaya bagi larva.
Pada awal pemeliharaan larva penyiponan dasar bak tidak dilakukan dan
penyiponan dasar hanya dilakukan dalam kondisi yang darurat seperti terjadi
kematian plankton yang mengendap di dasar wadah. Penyiponan dasar biasaya dapat dilakukan
mulai hari ke-10. Setelah larva
diberikan pakan buatan maka penyiponan sisa pakan dilakukan setiap hari.
Agar media pemeliharaan larva juga terbebas dari serangan bakteri dan jamur
biasanya diberi obat-obatan dengan merek dagang ElBAJU atau Gold 100. dengan dosis 1 ppm. Pemberian dilakukan setiap 5 hari sekali.
SUMBER:
Sumantadinata K., 2003. Modul Pemeliharaan Larva sampai Benih Ikan
Kerapu Bebek. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar